HALAMAN

Tampilkan postingan dengan label balap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label balap. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Yamaha Jupiter-Z, Galak Pakai Pengapian Yamaha YZ125


Keperkasaan Akbar Taufan dengan Yamaha Jupiter Z miliknya terus berlanjut di kejurnas grasstrack region 2. Usai melenggang di seri perdana di sirkuit MPS di Pandeglang, Banten, kini Jupiter itu mampu menghantarnya berdiri di podium tertinggi di seri ke-2 di Tulungagung, Jawa Timur.

Tapi, ada perbedaan seting yang diterapkan antara seri I dan seri II. “Jika sebelumnya memakai pengapian milik Yamaha YZ250F, kini coba bermain dengan Yamaha YZ125,” ungkap Imam Syafei, peracik engine Jupiter milik Akbar ini.

Ada alasan kenapa Imam coba menyuguhkan pengapian set milik YZ125. Yaitu, soal limiter CDI. Ketika menggunakan pengapian YZ250F, limiter CDI hanya bisa bermain di 12.000 rpm saja. Sedangkan putaran engine Jupiter yang diubah buat keperluan balap, bisa tembus diatas itu.
“Ketika pakai CDI YZ250F, memang bisa diprogram. Tetapi untuk limiter enggak bisa diapa-apakan. Maka itu, coba ubah pakai milik YZ125 yang limiternya bisa bermain di 13.500 rpm,” ungkap Imam yang asli Semarang, Jawa tengah.

Selain itu, keunggulan pengapian YZ125 yang didukung CDI Vortex, memiliki magnet yang lebih kecil ketimbang YZ250F. Jadi, buat main di putaran atas lebih bagus ketimbang hanya memainkan torsi saja. Maka itu, Akbar yang membawa bendera tim Cargloss AHRS 86 Tech Swallow Try-Ink pun mampu melesat cepat di trek lurus.

Permainan pengapian set milik YZ125 ini juga didukung dengan pemakaian pelatuk klep model roller. Tuner 42 tahun ini coba mengganti pelatuk klep konvensional Jupiter dengan mengaplikasi pelatuk klep Honda Blade. Tentunya, ada penyesuaian di dudukan pelatuk klep dan kem itu sendiri.
“Bumbungan kem dibuat menjadi lebih membulat, tak seperti sebelumnya yang model tirus. Lift klep juga bisa dibuat lebih tinggi dengan aplikasi pelatuk klep ini,” beber tuner yang racikan mesinnya banyak diandalkan tim-tim luar Jawa.

Setelah membuat durasi kem menjadi 273 derajat, tinggi bukaan klep isapdipatok bermain di 9,3 mm. Begitu juga dengan lift klep buang. Diseting di angka 9,2 mm. Klep sendiri, mengaplikasi milik Honda Sonic dengan diameter 28 mm (in) dan 23 (ex). Lobe separation angle (LSA) kem yang diterapkan Imam di Jupiter ini, bermain di 103 derajat.

Hasil ubahan yang dilakukan ini, membuat Imam mengandalkan rasio kompresi mesin yang tak terlalu tinggi. Yaitu, cukup 13,5 : 1. Tetapi hasilnya, mampu membuat Akbar menguasai point klasemen di region 2 tuh. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston : Daytona (55,25 mm)
Karburator: Keihin PWK 28 mm Sudco
Main/ pilot jet: 108/50
Sok belakang: Kayaba
Knalpot: AHRS
 

Yamaha Jupiter-Z, Kejar Power Teratur


Bermain di Kejurnas MotoPrix Region 2 seri II, Purwokerto, Jawa Tengah lalu, pacuan Sulung Giwa terlihat stabil. Pembalap andalan Yamaha Yamalube NHK 3M FDR Ridlatama (YYN3FR) teratur mengumpan power dari mesin ke roda belakang. Padahal, posisi start hanya pada grid ke-4.

Artinya, ada tiga pembalap di depannya, dengan kecepatan yang lebih baik. Apalagi sempat fight dengan Willy Hammer dari tim Honda Rinjani MPM NHK Kawahara, lebih dari setengah race yang keliling 20 putaran sirkuit GOR Satria Purwokerto. Ternyata, kuncinya mengatur tenaga optimal untuk sirkuit yang berakter high speed ini.

Sirkuit GOR Satria memiliki karakter yang unik. Dengan jarak 1 kilometer, tetapi dihiasi 10 tikungan. Iya, tikungan ke kanan dan ke kiri juga dong. Walaupun punya trek yang tak terlalu lebar, namun bertipikal rolling speed. Hanya satu chicane yang cukup memperlambat laju kuda besi balap.

“Makanya, saya fokus putaran menengah dan atas. Akselerasi atau power bawah sedikit dikorbankan. Namun mesin awet dengan rasio kompresi 13,5 : 1,” buka Widya Krida Laksana, tukang korek mesin andalan YYN3FR.

Gebukan kompresi yang dibakar bensol ini ditahan oleh piston Daytona berdiameter 55,25 mm. Komposisi ini pas untuk kelas MP1 yang boleh bore up untuk pacuan 125 cc seeded. Kan aslinya Jupiter-Z hanya 110 cc.
Tak heran kalau power terlihat halus setiap keluar tikungan. Karakter Sulung Giwa yang cenderung seradak-seruduk, mampu mengikuti ritme dan karakter sirkuit. Caranya, karburator diseting sedikit basah dengan komposisi pilot jet 62 dan main jet 118 yang disemburkan Keihin PWK Sudco 28 mm.

Apalagi race MP1 alias 125 seeded ini start pada siang hari. Yaitu, pukul 13.30 WIB dengan cuaca terik matahari yang lagi lucu-lucunya. Wajar kalau butuh setingan karbu basah.

“Jika karbunya diseting kering, mesin bakal teriak dengan kehabisan power. Yang bahaya, mesin bisa-bisa overheat dengan resiko piston macet,” yakin Gendut saapaan gaul mekanik muda ini.

“Untuk noken as, masih seperti korekan lama dengan lift klep dibuat 9,4 mm. Tapi, racikan paling mujarab, ada pada kombinasi rasio. Gigi I, 13/33 mata. Gigi II, 18/32 mata. Gigi III, tetap pakai standar dan gigi IV main di 21/24 mata,” jelas Gendut yang giginya kering karena Sulung juara. Senyum terus sih. Ha,ha,ha...

Racikan rasio tersebut, membuat lengkingan mesin tidak menjerit kehabisan power. Tapi, tetap melaju halus dengan final gear 14/42 mata sesuai permintaan power mesin yang stabil.

Selamat!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR MP 76 90/80-17
Pelek : SSS 1,60 x 17
Sok belakang: Penske
Klep: Sonic
Karbu : Keihin PWK Sudco 28
 

Honda Sonic, Langsung Menang Berkat Head CBR250R!


Honda Sonic yang didatangkan langsung dari Thailand ini, mampu membuktikan dominasinya. Tim JFK Vincent’s Marcelio AMS Oil asal Semarang, Jawa Tengah, menurunkannya di kelas Bebek Tune Up s/d 200 cc.

“Motor ini kita beli dari salah satu tim drag bike yang ada di Thailand. Baru pertama ini ikut kejuaraan drag di Indonesia,” buka Marlon selaku pemilik tim.

Kelas yang sebelumnya menjadi langganan Suzuki Satria F-150 untuk naik podium, kini mulai terusik dengan kedatangan motor yang aslinya hanya 125 cc ini. Meski pertama diadu, pacuan ini sudah langsung jadi yang tercepat dengan torehan waktu 7,394 detik di trek 201 meter.
“Terus terang, setingan motor ini dilakukan di Thailand. Kami diberikan manual book untuk perawatan dan penggantian komponen,” terang pria yang punya usaha pengolahan plastik ini.

Walau agak sedikit tertutup dengan teknologi yang dibenamkan pada motor itu, tetapi kita akan coba kupas lebih dalam. Sonic ini, mengandalkan kepala silinder dari motor sport Honda untuk gantikan kepala silinder aslinya.

“Untuk kepala silinder, pakai Honda CBR250,” tambah Barra Weda, joki tim yang ikut ambil motor ini di Thailand. Dengan aplikasi kepala silinder dari CBR250, diyakini pasokan bahan bakar yang masuk ke ruang bakar semakin sempurna.
“Selain itu, jadi enggak perlu lakukan pembesaran katup isap dan katup buang,” jelas Barra. Kelebihan lainnya, head silinder CBR 250 terdapat dua kem yang masing-masing kem tersebut menggerakkan dua katup.

“Berbeda dengan yang ada pada Satria F-150. Tiap camshaft terdapat dua bumbungan yang masing-masing menggerakkan katup. Kalau di CBR250, satu kem menekan dua katup. Ini yang membuatnya lebih efisien,” sambung Fendi P. Novian rekan satu tim Barra.

Efeknya, jadi lebih efisien dari segi gesekan maupun bobot mesin. Akhirnya, membuat akselerasi lebih cepat digapai. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston: Hi-Speed
CDI: Sindengen
Pompa radiator: Mitsubishi
Koil: Denso5
 

Yamaha Jupiter-Z, Kejar Power Teratur


Yamaha Jupiter-Z ini jadi andalan Widodo yang kerap turun latihan balap di Sirkuit Gokart Sentul, Bogor, Jawa Barat. Malah, bukan hanya di Sentul.

Untuk bertarung di trek Monasco pun, Dodo suka pakai ini. Penasaran dengan hasil garapan bengkelnya sendiri Dovi Racing Team (DRT), Dodo ikuti fun race di Sentul beberapa waktu lalu. “Hasilnya, menang di kelas 125 cc,” senang Dodo.

Jurus jitu pertama yang dilakukan Dodo, ganti penggebuk ruang bakar pakai diameter 54 mm dari FIM Piston. “Bibir piston saya buat mendem sekitar 0,5 mm dari atas blok silinder. Kondisi ini bikin mesin jadi square. Iya, karena kondisi stroke dan bore sama. Ya, 54 mm. Power merata,” sebutnya.

Untuk memperlancar pasokan bahan bakar, Dodo aplikasi karbu Keihin PE24 mm. “Karburator direamer lagi sekitar 2 mm. Sekarang jadi berdiameter 26 mm,” kata Dodo. Sekadar untuk bisa membuat motor kencang, trik yang dilakukan Dodo ini memang tak terlalu ekstrim pada ruang bakar dan karburator. Makanya, kompresi cukup bermain di angka 11,5 : 1. Toh masih aman buat ‘minum’ Pertamax Plus.
Ubahan lainnya, seperti kem orisinal masih dipakai. Tapi, dicustom ulang hingga berdurasi 250 derajat. “Fokusnya, buat kejar atau ngisi tenaga di putaran bawah. Biar lebih galak,” tambahnya.

Sebagai penyalur power dari engine, area kopling juga diobok-obok. Kampas kopling, pakai punya Suzuki FR 80 yang dikombinasi per kopling Suzuki Smash.

Alasan kampas kopling pakai punya Suzuki FR, karena dirasa lebih kuat dan lebih tebal. “Sedangkan pemakaian per kopling Smash, bentuknya lebih renggang tetapi kuat,” tutup Dodo dari Jl. Utan Panjang 3, Kemayoran, Jakarta Pusat. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-17
Ban belakang : Battlax 140/70-17
CDI : BRT Dual Band
Koil : Suzuki RM 85
DRT : 0838-9319-2977

Yamaha Jupiter-Z, Andalkan Big Krus As Untuk Drag Bike


Diantara banyaknya jenis kuda besi pacuan yang meramaikan di kelas Bebek Tune Up s/d 200 cc, Yamaha Jupiter-Z tahun 2008 ini tetap mampu memberikan perlawanan.

“Bahkan beberapa kali mampu mencatatkan waktu terbaik di event dragbike,” buka Totok dari Pells Top Jaya Ronex pemilik motor yang menyerahkan pengerjaan motor ini pada Muh. Arif Sigit Wibowo alias Pele.

Apa rahasia dari Jupiter-Z racikan bengkel Pells Racing yang ada di Boyolali, Jawa Tengah ini. Sehingga, mampu mencetakkan best time 07,49 detik.

“Yang jelas jeroan mesin telah didesain ulang, terutama desain kruk as-nya diperbesar bandulnya,” bisik Pele. Kruk as standar Jupiter-Z yang diameternya 96 mm ditambah daging dan dibentuk ulang hingga kini diameternya jadi 102 mm.

Big end atau pen kruk as aplikasi milik Suzuki Shogun atau Suzuki Smash. Sedangkan Setang seher, adopsi milik Yamaha Mio. Tapi, dengan penambahan diameter kruk as sebesar itu, menyebabkan ruang karter juga mengalami pembesaran.
Ternyata dengan pembesaran kruk as mentok juga pada gigi rasio. Sehingga mekanik harus berpikir ulang untuk menyesuaikan gigi rasio dengan pembesaran diameter kruk as.

“Akhirnya aku buatkan sendiri gigi rasio yang sesuai dengan perbandingan. Gigi I, 15/33. Gigi II, 18/31, Gigi III, 19/27 dan gigi IV, 22/23,” jelas mekanik yang beralamat di Jl. Tinawas, Kec. Nogosari, Boyolali.

Lalu, rasio kompresi mesin dibuat jadi 13,8 : 1. Ini tercipta dari pemakaian piston forging dari Kawahara Racing diameter 66 mm,” tambah mekanik yang sebelumnya lebih familiar dengan matik ini sembari bilang big end digeser 2 mm biar stroke jadi 58 mm.

Dengan ubahan itu, perlu diimbangi juga dengan pemasukan bahan bakar yang lebih maksimal. Urusan supply bahan bakar ke ruang bakar dipercayakan ke karbu Keihin PE 28 yang sudah direamer jadi 31 mm. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Pelek: Kawahara Racing
Knalpot  : Kawahara Racing
CDI: Kawahara Racing
Sok belakang: YSS
Pells Racing: 0812-297-1361
 

Yamaha Mio, 300 cc Tapi Lembut!


Meski Yamaha Mio ini sudah berkapasitas 300 cc, tetapi karakternya lembut diawal. Tetapi, melesat bak jet di putaran atas. Jarak 201 meter, tembus 7,015 detik.

Hal tersebut diakui Bara Weda sang joki dari tim Marcelio Frogz VRG Yong Motor yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. “Tenaga bawah halus tapi lewat 100 meter motor melesat bagai jet,” beber joki asal Semarang, Jawa Tengah ini.

Yong Mustofa dari Yong Motor Nano Nano ART yang bermarkas di Kemayoran, Jakarta Pusat, jadi otak dibelakang ngacirnya Mio ini.

“Untuk menjadikan motor matik melesat cepat, torsi mesin menjadi fokus pengerjaan,” beber Yong. Untuk menaikkan torsi, ditempuh dengan jalan memanjangkan langkah piston.
Karburator Keihin PE 20 mm di reamer jadi 34 mm, Magnet tetap standar untuk kail torsi besar, Knalpot bawa dari Thailand.
Langkah piston yang standarnya 57,9 mm dinaikkan jadi 86 mm. Selanjutnya untuk mendukung kinerja, piston dipasangkan dari merek LHK yang mempunyai diameter 66 mm. Sehingga didapatkan kapasitas mesin yang tembus di angka 294,5 cc.

“Motor matik membutuhkan torsi yang besar untuk memulai awalan, disini peranan dari langkah piston yang disetting cukup panjang,” sambungnya.

Buat imbangi besarnya volume ruang bakar, klep in pakai diameter 34 mm, ex 30 mm. Klep diambil merek SPS yang punya diameter batang 5 mm. (motorplus-online.com)

Senin, 22 April 2013

Honda Supra X 125, Jurus Kompresi Kagetkan Indoprix



Buat menaklukkan sirkuit Gokart Sentul dengan Honda Supra X125, rasanya tidak butuh kompresi terlalu tinggi. Apalagi, bahan bakar yang dipakai Pertamax Plus. Rasio kompresi mesin, cukup bermain di 12,2 : 1. Perbandingan ini, terbukti cukup menjanjikan bagi bebek sayap tunggal.

Buktinya, Wahyu Widodo bisa ‘bicara lebih’ ketika membalap di salah satu club event yang berlangsung di sirkuit itu dua minggu lalu. Terlepas dari itu, Supra X125 yang turun di kelas Bebek 4-Tak 125 cc Tune Up Seeded ini pernah dicoba bermain rasio kompresi mesin 12,5 : 1, lho.

“Sebelum balap, kita memang lakukan simulasi seminggu sebelumnya di sirkuit ini. Ketika pakai rasio kompresi mesin 12,5 : 1, piston selalu kalah. Baru 5 lap, sudah enggak kuat. Permukaan atas seperti meleleh karena terlalu panas,” ungkap Suhartanto selaku tunner tim Honda Daya Daytona NHK IRC.
Berasal dari simulasi itulah akhirnya Suhartanto coba menurunkan rasio kompresi mesin. Hingga, akhirnya didapat angka 12,2 : 1. Dengan angka ini, mesin jauh lebih aman buat berlari 25 lap.

Penurunan itu didapat dari piston diameter 53,4 mm yang bagian dome alias kubahnya dipapas hingga menjadi 2 mm. Itu, jika diukur dari bibir piston atas paling pinggir.

“Sebelumnya, tinggi dome bermain di 3 mm. Resikonya bermain kompresi tinggi dengan bahan bakar Pertamax Plus, ya seperti itu sih,” timpal Kupret, sapaan kondang Suhartanto.

Ditemani durasi kem yang bermain di angka 270 derajat, klep aplikasi merek EE. Diameter klep isap dibikin 29 mm dan klep buang 24 mm. Lalu, tinggi angkatan klep dibikin jadi 9,1 mm buat klep in dan 9,3 mm buat klep ex. Kinerja klep juga didukung dengan per klep BRT-Bintang Racing Tea, yang mampu diajak buat berkitir di rpm tinggi.
Enggak salah juga kalau Kupret memadukan CDI BRT-Bintang Racing Team, I-Max yang limiter-nya diseting di 14.600 rpm. Timing pengapian tertinggi, dipatok di angka 38 derajat di 5.000 – 9.000 rpm. Sedangkan timing terendah bermain di 34 derajat di angka 14.000 rpm.

“Seting ini cocok dengan karakter Wahyu yang lebih lembut membuka dan menutup gas di tikungan. Baginya, tak perlu power galak di putaran bawah. Tapi, cenderung power tengah-atas yang diinginkan,” beber Kupret yang ketika dihubungi tengah mempersiapkan Honda CBR 250R buat turun di kejurnas Sport 250 cc. Tetapi ke depannya, riset akan terus berlanjut. Karena menurutnya, seting saat ini belumlah maksimal. (motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI
Ban: IRC 166 90/80-17
Sok belakang: Daytona
Cakram depan: Daytona
Knalpot: AHM
 

Yamaha Jupiter Z, Bukti Harlan Fadillah Belum Habis



Disaat penikmat balap berspekulasi dengan persaingan tim pabrikan Yamaha dan Honda, ternyata ‘nyelip’ satu pembalap yang tidak diperhitungkan merangsek ke barisan depan. Yaitu, Harlan Fadillah.

Seolah ingin menepis anggapan bahwa dirinya sudah ‘habis’ sebagai racer seeded nasional, pembalap tim Pertamina Enduro BRT Nissin ini finish di podium kedua ketika balap di Sirkuit Karting Sentul, Bogor, Jawa Barat, dua minggu lalu.

Keberhasilan Harlan di kelas Bebek 4-Tak 125 cc Tune Up Seeded, ternyata tidak lepas dari Sang Dalang yang berada di belakang layar. Yup, Tomy Huang. Faktor penentu, ada pada kompresi yang tepat dan pengapian yang pas.
Perbandingan rasio kompresi mesin dibikin 12 : 1. Angka ini, hasil olahan piston milik Daytona yang punya diameter 55,25 mm dengan head silinder andalkan bahan beryllium copper yang tahan panas buat sitting klep.

“Jika tidak memakai bahan itu, mesin akan cepat panas. Apalagi bahan bakar memakai Pertamax Plus,” jelas Tomy Huang.

Sedangkan pada bagian pengapian, mengandalkan CDI BRT-Bintang Racing Team I-Max Super Pro yang dikombinasikan magnet Yamaha YZ125.

“Strateginya, pada lap 1 sampai pertengahan pakai map 34. Sedangkan pada lap pertengahan, map diturunkan di nomor 33 agar mesin tidak terlalu panas. Baru ketika menjelang dua lap terakhir, map dinaikkan kembali ke nomor 34,” beber pria yang motornya langsung dibeli tim lain di Sentul Kecil itu.
Untuk menyempurnakan semburan bahan bakar, dipilih Keihin PWK Sudco 28 mm. Semburan uap bahan bakar yang masuk diatur klep in diameter 29 mm dan dibuang klep ex 24 mm. “Nah, buka-tutup klep itu diatur kem yang dibikin 265 derajat buat in dan ex,” ungkap Tomy.

Meski bisa menepis bahwa dirinya belum habis, tetapi Dewi Fortuna belum berpihak padanya. “Di lap terakhir, persnelingnya turun sendiri. Padahal, podium pertama di depan mata,” keluh Harlan. Masih untung juara 2. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Master rem : Nissin
Cakram: Nissin
Sok belakang : Ohlins
Knalpot  : R9

Yamaha RX-Z, Cukup 138 cc Untuk Jadi Juara!



Konon, Yamaha RX-Z ini terkenal liar dan tidak sembarang orang yang bisa mengendalikannya di ajang kebut lurus resmi 201 meter. Main di kelas Sport 2-Tak Tune Up 140 cc, pacuan ini telah berulang kali menorehkan waktu tercepat.

Bersama joki Fandi P. Novian yang membela tim Marcelio Frog,z VRG asal Semarang, Jawa Tengah, RX-Z ini menorehkan waktu 7,4 detik. Bahkan, menjadi yang tercepat di event drag bike yang digelar di kota Jepara, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

“Tidak sembarang joki yang mampu menaklukkan motor ini. Hanya aku dan Eko Codox yang bisa mengenal karakternya,” buka joki yang lebih beken dengan nama Fandi Pendol ini. Best time yang pernah dicatatkan oleh motor ini 7,3 detik saat dikendarai Eko Codox.

Berkat racikan tangan dingin Yusron, besutan ini konsisten bermain di jalur juara. Rahasia apa yang tersembunyi di balik tampang motor yang dikelir orange ini, mari kita kupas.

“Yang pasti RX-Z telah dibekali dengan komponen-komponen berkualitas racing. Jadi, tinggal memaksimalkannya saja,” beber Yusron, sang mekanik. Sport yang aslinya mengusung volume silinder 132 cc ini, mempunyai torsi yang besar. Hal tersebut, didapatkan dari panjang stroke dan diameter piston yang terpautnya hanya sedikit. Untuk stroke RX-Z bermain di 54 mm dan diameter seher standar menyentuh angka 56 mm.
“Sehingga dari data tersebut karakter RX-Z sebenarnya motor yang susah untuk diajak berakselerasi, disini kita harus lakukan ubahan pada mesinnya,” tambahnya. Untuk langkah yang pertama, diameter piston coba dibesarkan. Dengan melakukan oversize sebesar 0,75 mm, kapasitas mesin jadi 138 cc.

Untuk mendapatkan akselerasi yang liar, perlu dilakukan pemapasan kepala silinder. Hal tersebut bertujuan untuk menaikkan rasio kompresi mesin. Dengan perbandingan kompresi yang tinggi, mesin akan cepat mencapai putaran tinggi.

Kepala silinder dilakukan pemapasan setebal 0,7 mm, tujuannya untuk mendapatkan memampatan pada ruang bakar yang lebih padat. “Untuk mendapatkan kinerja yang mantap pada putaran bawah, maka ruang bakar dibuat lebih sempit dengan cara melakukan pemapasan pada kepala silindernya. Sehingga didapatkan perbandingan kompresi lebih tinggi dari standar,” bilang Sang Mekanik.

Langkah berikut yang dilakukan memperbesar lubang transfer. Lubang transfer dilakukan porting 2,5 mm untuk memperlancar bahan bakar yang masuk.Hal ini dilakukan karena katup buluh menggunakan produk V-Force 3 yang mampu membuka lebih lebar.

Untuk lebih memaksimalkan pembakaran, pengapian diseting ulang. Mengandalkan komponen dari Special Engine. “Magnet dan koil diambilkan dari Yamaha YZ125,” tambah Adryan Pratama salah satu crew Marcelio Frog,z. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Knalpot: KDX
Karburator: Keihin PWK 38
 

Yamaha Jupiter Z, Juara Setelah Akali Dehidrasi Bahan Bakar



Engine pacuan balap pun bisa jadi ‘dehidrasi’. Seperti dialami Yamaha Jupiter-Z yang dipacu Anggi Permana kala turun di club event di Sirkuit Gokart Sentul, beberapa waktu lalu.

Ketika bertarung di race 1 kelas Bebek 125 cc 4-Tak Tune Up Seeded, Jupiter Z ini diberi ‘umpan’ rasio kompresi mesin 11,9 : 1. Rupanya, perbandingan ini masih terlalu tinggi.

Ditambah panasnya mentari kala itu, membuat aspal juga seakan ikut memanggang engine. Akibatnya, setingan pacuan yang aplikasi bahan bakar Pertamax Plus ini lebih pilih bermain aman. Artinya, enggak ngotot untuk tampil di deretan terdepan.

“Karakter Pertamax Plus memang seperti itu. Lebih panas ketimbang Bensol. Kalau salah seting atau salah terapkan rasio kompresi mesin, yang kalah di part mesin,” ujar Haris Sakti, tunner tim Yamaha Yamalube FDR KYT Trijaya.

Memang, terlihat usai race 1. Salah satu part yang ‘terluka’ oleh panas itu adalah piston. Piston diameter 55,25 mm yang jadi andalan di Jupiter Z ini, sedikit terluka di bagian permukaan. “Sebenarnya kalau setingnya ketemu, piston masih kuat-kuat saja,” sebut Mletis.
Untuk menuju race 2, akhirnya Mletis putar otak dengan menurunkan rasio kompresi mesin ke 11,8 : 1. Tujuannya, agar mesin enggak step macam bocah yang terkena panas tubuh tinggi. Toh, angka ini juga dipilihnya karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, cuaca yang tak terlalu terik lagi.

Kali ini, tinggi dome piston dibuat 1,5 mm jika diukur dari bibir terluar permukaan piston. Lalu, posisi mendem piston dari permukaan blok silinder teratas dibuat jadi 0,7 mm.

Agar rasio kompresi diinginkan sesuai, kepala silinder juga ikut dipapas hingga 0,3 mm. Setelah itu, Mletis yang asli Jogja ini pun ikut menyesuaikan timing pengapian. Pakai CDI Rextor tipe Pro Drag, timing tertinggi dibuat jadi 33 derajat di 9.000 rpm. Sebelumnya, bermain di 32,5 derajat. Limitter CDI, dipatok di 14.800 rpm. “Sebenarnya bisa 15.200 rpm,” ujar tunner muda berbakat ini.

Wajar saja kalau kitiran mesin bisa sentuh 15.200 rpm. Itu karena Mletis aplikasi klep berbahan titanium dari special engine Honda CRF250. “Per klep pakai Akutagawa spesialis titanium,” katanya.

Usaha yang dilakukan tak sia-sia. Anggi yang kala itu masih dinaungi cidera pergelangan tangan pun mampu podium pertama di race 2. (motorplus-online.com)




DATA MODIFIKASI

Ban: IRC 166 90/80-17
Cakram: TDR
Sok belakang: YSS
Master rem: Suzuki Thunder 250
Karburator: Keihin PWK Sudco 28 mm
 

Honda Nova Dash, Seting Dari Pembalap Tembus 7,2 Detik di 201 Meter!



Prabowo atau yang punya nama ‘panggung’ Bowo Samsonet joki MC Racing TDC punya kebiasaan selalu mengecek dan menyeting motor yang akan dipakai balap. Seperti Honda Nova Dash yang turun di kelas campuran 2-tak s/d 250 cc, motor ini pun tidak lepas dari pengamatan sang pembalap.

Alhasil pada event Pertamina Enduro Comet K Factory Drag Bike Day Battle yang digelar di Senayan, Jakarta Pusat Minggu lalu, doi bisa finish diurutan dua dengan catatan waktu 7,3 detik.

Setingan yang yang dilakukan cukup sederhana. Hanya mengubah setelan pilot jet dan main jet pada karburator yang mengandalkan Keihin PWM yang lubang venturinya direamer menjadi 41 mm dari ukuran aslinya yang 38 mm. Pilot jet dibikin 68 mm dengan perpaduan main jet 195 mm.

“Setingan segitu bisa bikin motor menjadi soft karena tenaga motor yang besar,” kata pembalap asal Magelang, Jawa Tengah itu sembari bilang pakai membran V-Force 2.

Bagian pengapian, diseting ulang. Magnet dipilih punya Yamaha YZ125 yang merupakan komponen special engine. Sedangkan CDI, masih mengandalkan aslinya. “CDI dimodif sendiri, limiternya dibikin lebih jauh. Jika aslinya pada rpm 11.000 sudah kena limiter, kini jadi 13.500 rpm,” beber Eva Agus Prasteyo sang mekanik.
Selain seting wilayah karbu, Bowo seting setelan gir. Menurutnya, gir set yang pas 15/ 33 mata. Setingan itu tentu diseusaikan dengan gigi rasio transmisi. Pada gigi satu, rasionya dibikin 14/32 mata dari aslinya yang punya ukuran 13/32 mata.

Lalu, gigi II, pakai 16/28 mata dari ukuran aslinya yang 14/29. “Sedangkan rasio gigi selanjutnya, masih mengandalkan ukuran standar,” sebut sang mekanik.

Motor semakin ‘ngacir’ dengan kompresi yang dibikin tinggi, hasil olahan piston merek Wiseco yang punya diameter 62 mm. Piston ini, dipadu dengan langkah 59,5 mm. “Itu setelah stroke dibikin naik 2,5 mm,” jelas Eva.

Dengan ubahan seperti itu tentu banyak yang harus disesuaikan. Seperti lubang buangnya yang disesuaikan dengan cara ditinggikan posisinya sebanyak 3,5 mm. Tapi, agar pistonnya tidak mentok, maka diakali dengan membuat nat 0,4 mm pada bagian head silinder.

Tapi, dengan ubahan motor seperti ini, Bowo nampaknya kurang puas. Karena doi hanya bisa finish diurutan dua. “Sayang banget, gara-garanya karena pada saat sebelum race hujan. Sepatu saya jadi licin, akibatnya saya kepeleset terus waktu mau pindahkan gigi dari empat ke lima,” tutup Bowo.

Yoo sing sabar. Next event digazz lagi ya! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Corsa 50/90-17
Ban belakang : Eat My Dust 70/80-17
Knalpot  : VRY
Karburator : PWM