HALAMAN

Tampilkan postingan dengan label drag. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drag. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Honda Sonic, Langsung Menang Berkat Head CBR250R!


Honda Sonic yang didatangkan langsung dari Thailand ini, mampu membuktikan dominasinya. Tim JFK Vincent’s Marcelio AMS Oil asal Semarang, Jawa Tengah, menurunkannya di kelas Bebek Tune Up s/d 200 cc.

“Motor ini kita beli dari salah satu tim drag bike yang ada di Thailand. Baru pertama ini ikut kejuaraan drag di Indonesia,” buka Marlon selaku pemilik tim.

Kelas yang sebelumnya menjadi langganan Suzuki Satria F-150 untuk naik podium, kini mulai terusik dengan kedatangan motor yang aslinya hanya 125 cc ini. Meski pertama diadu, pacuan ini sudah langsung jadi yang tercepat dengan torehan waktu 7,394 detik di trek 201 meter.
“Terus terang, setingan motor ini dilakukan di Thailand. Kami diberikan manual book untuk perawatan dan penggantian komponen,” terang pria yang punya usaha pengolahan plastik ini.

Walau agak sedikit tertutup dengan teknologi yang dibenamkan pada motor itu, tetapi kita akan coba kupas lebih dalam. Sonic ini, mengandalkan kepala silinder dari motor sport Honda untuk gantikan kepala silinder aslinya.

“Untuk kepala silinder, pakai Honda CBR250,” tambah Barra Weda, joki tim yang ikut ambil motor ini di Thailand. Dengan aplikasi kepala silinder dari CBR250, diyakini pasokan bahan bakar yang masuk ke ruang bakar semakin sempurna.
“Selain itu, jadi enggak perlu lakukan pembesaran katup isap dan katup buang,” jelas Barra. Kelebihan lainnya, head silinder CBR 250 terdapat dua kem yang masing-masing kem tersebut menggerakkan dua katup.

“Berbeda dengan yang ada pada Satria F-150. Tiap camshaft terdapat dua bumbungan yang masing-masing menggerakkan katup. Kalau di CBR250, satu kem menekan dua katup. Ini yang membuatnya lebih efisien,” sambung Fendi P. Novian rekan satu tim Barra.

Efeknya, jadi lebih efisien dari segi gesekan maupun bobot mesin. Akhirnya, membuat akselerasi lebih cepat digapai. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston: Hi-Speed
CDI: Sindengen
Pompa radiator: Mitsubishi
Koil: Denso5
 

Yamaha Jupiter-Z, Andalkan Big Krus As Untuk Drag Bike


Diantara banyaknya jenis kuda besi pacuan yang meramaikan di kelas Bebek Tune Up s/d 200 cc, Yamaha Jupiter-Z tahun 2008 ini tetap mampu memberikan perlawanan.

“Bahkan beberapa kali mampu mencatatkan waktu terbaik di event dragbike,” buka Totok dari Pells Top Jaya Ronex pemilik motor yang menyerahkan pengerjaan motor ini pada Muh. Arif Sigit Wibowo alias Pele.

Apa rahasia dari Jupiter-Z racikan bengkel Pells Racing yang ada di Boyolali, Jawa Tengah ini. Sehingga, mampu mencetakkan best time 07,49 detik.

“Yang jelas jeroan mesin telah didesain ulang, terutama desain kruk as-nya diperbesar bandulnya,” bisik Pele. Kruk as standar Jupiter-Z yang diameternya 96 mm ditambah daging dan dibentuk ulang hingga kini diameternya jadi 102 mm.

Big end atau pen kruk as aplikasi milik Suzuki Shogun atau Suzuki Smash. Sedangkan Setang seher, adopsi milik Yamaha Mio. Tapi, dengan penambahan diameter kruk as sebesar itu, menyebabkan ruang karter juga mengalami pembesaran.
Ternyata dengan pembesaran kruk as mentok juga pada gigi rasio. Sehingga mekanik harus berpikir ulang untuk menyesuaikan gigi rasio dengan pembesaran diameter kruk as.

“Akhirnya aku buatkan sendiri gigi rasio yang sesuai dengan perbandingan. Gigi I, 15/33. Gigi II, 18/31, Gigi III, 19/27 dan gigi IV, 22/23,” jelas mekanik yang beralamat di Jl. Tinawas, Kec. Nogosari, Boyolali.

Lalu, rasio kompresi mesin dibuat jadi 13,8 : 1. Ini tercipta dari pemakaian piston forging dari Kawahara Racing diameter 66 mm,” tambah mekanik yang sebelumnya lebih familiar dengan matik ini sembari bilang big end digeser 2 mm biar stroke jadi 58 mm.

Dengan ubahan itu, perlu diimbangi juga dengan pemasukan bahan bakar yang lebih maksimal. Urusan supply bahan bakar ke ruang bakar dipercayakan ke karbu Keihin PE 28 yang sudah direamer jadi 31 mm. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Pelek: Kawahara Racing
Knalpot  : Kawahara Racing
CDI: Kawahara Racing
Sok belakang: YSS
Pells Racing: 0812-297-1361
 

Yamaha Mio, 300 cc Tapi Lembut!


Meski Yamaha Mio ini sudah berkapasitas 300 cc, tetapi karakternya lembut diawal. Tetapi, melesat bak jet di putaran atas. Jarak 201 meter, tembus 7,015 detik.

Hal tersebut diakui Bara Weda sang joki dari tim Marcelio Frogz VRG Yong Motor yang bermarkas di Semarang, Jawa Tengah. “Tenaga bawah halus tapi lewat 100 meter motor melesat bagai jet,” beber joki asal Semarang, Jawa Tengah ini.

Yong Mustofa dari Yong Motor Nano Nano ART yang bermarkas di Kemayoran, Jakarta Pusat, jadi otak dibelakang ngacirnya Mio ini.

“Untuk menjadikan motor matik melesat cepat, torsi mesin menjadi fokus pengerjaan,” beber Yong. Untuk menaikkan torsi, ditempuh dengan jalan memanjangkan langkah piston.
Karburator Keihin PE 20 mm di reamer jadi 34 mm, Magnet tetap standar untuk kail torsi besar, Knalpot bawa dari Thailand.
Langkah piston yang standarnya 57,9 mm dinaikkan jadi 86 mm. Selanjutnya untuk mendukung kinerja, piston dipasangkan dari merek LHK yang mempunyai diameter 66 mm. Sehingga didapatkan kapasitas mesin yang tembus di angka 294,5 cc.

“Motor matik membutuhkan torsi yang besar untuk memulai awalan, disini peranan dari langkah piston yang disetting cukup panjang,” sambungnya.

Buat imbangi besarnya volume ruang bakar, klep in pakai diameter 34 mm, ex 30 mm. Klep diambil merek SPS yang punya diameter batang 5 mm. (motorplus-online.com)

Senin, 22 April 2013

Yamaha RX-Z, Cukup 138 cc Untuk Jadi Juara!



Konon, Yamaha RX-Z ini terkenal liar dan tidak sembarang orang yang bisa mengendalikannya di ajang kebut lurus resmi 201 meter. Main di kelas Sport 2-Tak Tune Up 140 cc, pacuan ini telah berulang kali menorehkan waktu tercepat.

Bersama joki Fandi P. Novian yang membela tim Marcelio Frog,z VRG asal Semarang, Jawa Tengah, RX-Z ini menorehkan waktu 7,4 detik. Bahkan, menjadi yang tercepat di event drag bike yang digelar di kota Jepara, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

“Tidak sembarang joki yang mampu menaklukkan motor ini. Hanya aku dan Eko Codox yang bisa mengenal karakternya,” buka joki yang lebih beken dengan nama Fandi Pendol ini. Best time yang pernah dicatatkan oleh motor ini 7,3 detik saat dikendarai Eko Codox.

Berkat racikan tangan dingin Yusron, besutan ini konsisten bermain di jalur juara. Rahasia apa yang tersembunyi di balik tampang motor yang dikelir orange ini, mari kita kupas.

“Yang pasti RX-Z telah dibekali dengan komponen-komponen berkualitas racing. Jadi, tinggal memaksimalkannya saja,” beber Yusron, sang mekanik. Sport yang aslinya mengusung volume silinder 132 cc ini, mempunyai torsi yang besar. Hal tersebut, didapatkan dari panjang stroke dan diameter piston yang terpautnya hanya sedikit. Untuk stroke RX-Z bermain di 54 mm dan diameter seher standar menyentuh angka 56 mm.
“Sehingga dari data tersebut karakter RX-Z sebenarnya motor yang susah untuk diajak berakselerasi, disini kita harus lakukan ubahan pada mesinnya,” tambahnya. Untuk langkah yang pertama, diameter piston coba dibesarkan. Dengan melakukan oversize sebesar 0,75 mm, kapasitas mesin jadi 138 cc.

Untuk mendapatkan akselerasi yang liar, perlu dilakukan pemapasan kepala silinder. Hal tersebut bertujuan untuk menaikkan rasio kompresi mesin. Dengan perbandingan kompresi yang tinggi, mesin akan cepat mencapai putaran tinggi.

Kepala silinder dilakukan pemapasan setebal 0,7 mm, tujuannya untuk mendapatkan memampatan pada ruang bakar yang lebih padat. “Untuk mendapatkan kinerja yang mantap pada putaran bawah, maka ruang bakar dibuat lebih sempit dengan cara melakukan pemapasan pada kepala silindernya. Sehingga didapatkan perbandingan kompresi lebih tinggi dari standar,” bilang Sang Mekanik.

Langkah berikut yang dilakukan memperbesar lubang transfer. Lubang transfer dilakukan porting 2,5 mm untuk memperlancar bahan bakar yang masuk.Hal ini dilakukan karena katup buluh menggunakan produk V-Force 3 yang mampu membuka lebih lebar.

Untuk lebih memaksimalkan pembakaran, pengapian diseting ulang. Mengandalkan komponen dari Special Engine. “Magnet dan koil diambilkan dari Yamaha YZ125,” tambah Adryan Pratama salah satu crew Marcelio Frog,z. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Knalpot: KDX
Karburator: Keihin PWK 38
 

Honda Nova Dash, Seting Dari Pembalap Tembus 7,2 Detik di 201 Meter!



Prabowo atau yang punya nama ‘panggung’ Bowo Samsonet joki MC Racing TDC punya kebiasaan selalu mengecek dan menyeting motor yang akan dipakai balap. Seperti Honda Nova Dash yang turun di kelas campuran 2-tak s/d 250 cc, motor ini pun tidak lepas dari pengamatan sang pembalap.

Alhasil pada event Pertamina Enduro Comet K Factory Drag Bike Day Battle yang digelar di Senayan, Jakarta Pusat Minggu lalu, doi bisa finish diurutan dua dengan catatan waktu 7,3 detik.

Setingan yang yang dilakukan cukup sederhana. Hanya mengubah setelan pilot jet dan main jet pada karburator yang mengandalkan Keihin PWM yang lubang venturinya direamer menjadi 41 mm dari ukuran aslinya yang 38 mm. Pilot jet dibikin 68 mm dengan perpaduan main jet 195 mm.

“Setingan segitu bisa bikin motor menjadi soft karena tenaga motor yang besar,” kata pembalap asal Magelang, Jawa Tengah itu sembari bilang pakai membran V-Force 2.

Bagian pengapian, diseting ulang. Magnet dipilih punya Yamaha YZ125 yang merupakan komponen special engine. Sedangkan CDI, masih mengandalkan aslinya. “CDI dimodif sendiri, limiternya dibikin lebih jauh. Jika aslinya pada rpm 11.000 sudah kena limiter, kini jadi 13.500 rpm,” beber Eva Agus Prasteyo sang mekanik.
Selain seting wilayah karbu, Bowo seting setelan gir. Menurutnya, gir set yang pas 15/ 33 mata. Setingan itu tentu diseusaikan dengan gigi rasio transmisi. Pada gigi satu, rasionya dibikin 14/32 mata dari aslinya yang punya ukuran 13/32 mata.

Lalu, gigi II, pakai 16/28 mata dari ukuran aslinya yang 14/29. “Sedangkan rasio gigi selanjutnya, masih mengandalkan ukuran standar,” sebut sang mekanik.

Motor semakin ‘ngacir’ dengan kompresi yang dibikin tinggi, hasil olahan piston merek Wiseco yang punya diameter 62 mm. Piston ini, dipadu dengan langkah 59,5 mm. “Itu setelah stroke dibikin naik 2,5 mm,” jelas Eva.

Dengan ubahan seperti itu tentu banyak yang harus disesuaikan. Seperti lubang buangnya yang disesuaikan dengan cara ditinggikan posisinya sebanyak 3,5 mm. Tapi, agar pistonnya tidak mentok, maka diakali dengan membuat nat 0,4 mm pada bagian head silinder.

Tapi, dengan ubahan motor seperti ini, Bowo nampaknya kurang puas. Karena doi hanya bisa finish diurutan dua. “Sayang banget, gara-garanya karena pada saat sebelum race hujan. Sepatu saya jadi licin, akibatnya saya kepeleset terus waktu mau pindahkan gigi dari empat ke lima,” tutup Bowo.

Yoo sing sabar. Next event digazz lagi ya! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Corsa 50/90-17
Ban belakang : Eat My Dust 70/80-17
Knalpot  : VRY
Karburator : PWM
 

Suzuki Satria FU150, Seting Kem Standar Jadi Juara OMR Satria!



Utamakan seting kem standar, itu salah satu trik jitu tim Abakura Bungakarya di Suzuki Satria FU150 agar melesat kencang di Pertamina Enduro Comet K Factory KYT Dragbike Day Battle 201 M Championship. Pacuan ini bertarung di kelas One Make Race (OMR) Suzuki Satria FU s/d 155 cc yang diadakan di Tasikmalaya, Jawa Barat beberapa minggu lalu.

Development kem yang dilakukan tim Abakura Bungakarya, bisa mengantarkan joki Dwi Batank asal Semarang, Jawa Tengah melesat tercepat di kelasnya. Dalam official result, bisa tembus 8,075 detik di trek panjang 201 meter.

“Sebenernya simpel saja, untuk kelas OMR Suzuki Satria FU s/d 155 cc durasi kem diretouch. Dibikin enggak terlalu gemuk layaknya ibu-ibu hamil 9 bulan. Buat in, main di 262 derajat dan ex 261 derajat,” bilang Wawan Kristiarto, mekanik bengkel Abakura yang ada di Jl. Solo-Semarang KM. 3, Solo, Jawa Tengah.
Hitungannya, klep in membuka 22 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup 60 setelah TMB (Titik Mati Atas). Sedangkan, ex membuka 60 derajat sebelum TMB dan menutup 21 derajat setelah TMA. Durasi segitu untuk mengawal klep in 22 mm dan ex 19 mm yang masih standar.

“Paling cocok untuk kelas 155 cc ya durasinya memang segitu. Bila terlalu gede, motor terlampau panjang nafasnya. Kurang bagus juga,” kata Wawan.

Penggunaan kem tadi, didukung maksimalisasi di bagian isi silinder. Kalau enggak didukung dan dimaksimalkan, enggak akan bisa melesat kenceng donk.

Untuk penggebuk kompresi, piston aplikasi kepunyaan Kawasaki Ninja 250R, diameter 62 mm yang pinggirnya dibikin mendem 0,9 mm dari bibir silinder. Dengan karakter piston yang lebih jenong, kompresi bisa lebih padet. Rasio kompresi mesin jadi 13,2 : 1.

Isi silinder masih pertahankan 150 cc. Padahal regulasi masih bisa sampai 155 cc. Di bagian pencampuran bahan bakar, Satria FU150 ini pakai karburator Keihin PJ 35 yang dijejali main-jet 120 dan pilot-jet 48.
Untuk meringankan putaran engine, di bagian magnet cangkok kepunyaan Yamaha YZ250. “Dengan aplikasi magnet YZ250, putaran kruk as bisa diringankan. Plusnya, motor bisa lebih cepet naik dan bikin torsi jadi galak,” tambahnya.

Soal rasio gearbox, juga ikut disesuaikan. Gigi I, 14/32 mata. Gigi II, 15/25 mata. Gigi III, 19/24 mata. Gigi IV, standar. Gigi V, 22/21 mata. Dan terakhir gigi VI, 24/20. Sedangkan di final gear, aplikasi 12/42 mata.

Gazz poll, cuy!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Knalpot: DBS
Sokbreker belakang: YSS
CDI: Rextor Prodrag
Ban depan: IRC 60/80-17
Ban belakang: FDR AX 50/90-17

Selasa, 19 Februari 2013

RXZ’ 98: RASIO OVERPOWER SABET 7,5 DETIK


Perfoma Yamaha RXZ tim Pamungkas Speed asal Sleman, Jogjakarta ini boleh diplot terkencang saat ini. Tentu saja, mengacu pada prestasi yang diukir sang joki, Muslih Wuri dalam kelas Sport 2 Tak Tune Up s/d 140 cc ataupun saat ikutan bermain di Sport 2 Tak Tune Up s/d 155 cc. Terbukti catatan waktu yang ditorehkan bermain di angka spesial 7,5 hingga 7,6 detik dalam menu lintasan 201 meter.
Diinvestigasi lebih lanjut sebagai salah satu rahasia settingan, maka hitungan perbandingan rasio tergolong nyeleneh dibanding yang lain. Utamanya rasio I dan II yang mengaplikasi angka 30-16 (1,87) dan 31-22 (1,40).

“Jadi ini buatan lokal, bukan rasio Malaysia atapun milik YZ 250 lawas yang banyak dipakai tim-tim yang bermain dengan RXZ. Intinya dibuat lebih berat lagi karena kelebihan power,“ terang Pamungkas, akrab disapa Ndawir yang bermarkas di Jl. Kaliurang Km. 13 Jogjakarta.

Angka rasio menentukan handling dragster. Jika memang menyulitkan harus diramu ulang. Perlu dipahami, rasio tersebut merupakan gawean Win’s Racing yang berbasecamp di Jl. Raya Jogja-Magelang, Pabelan. Sebagai komparasi saja, rasio Malaysia untuk I ialah 31-14 (2,21) dan II nya 31-21 (1,47). Silahkan cermati angka yang ada dalam kurung. Semakin kecil, maka karakter powernya semakin berat dan sebaliknya jika makin besar dipastikan lebih responsif.

Seterusnya untuk rasio III (25-20), IV (24-22) dan V (23-23) sama saja dengan rasio Malaysia. Hanya rasio VI yang berbeda dimana diadopsi 22-24 (0,91), sedang produk Malaysia 27-25 (1,08). Lagi-lagi, memiliki ciri perbandingan yang lebih berat. Cerita masalah rasio, tentu saja merupakan langkah akhir dari urusan korek mesin.  Terutama setelah mengupgrade ruang bakar, termasuk kompresi.

Dalam konteks ini, perlu juga dipahami rahasia dapur pacu dua topik tersebut. Mulai dengan exhaust yang tingginya dibuat 25,5 mm dari bawaan asli yang 29 mm. “Bentuknya mirip kepunyaan YZ 85 seperti kipas. Untuk transfer 41,5 mm,“ ujar Ndawir yang menggunakan pula kopling house YZ 85 dengan dukungan 5 per dibanding
RXZ yang 4 buah.

“Efek lubang buang ini, topspeed selalu isi. Ini yang menjadi nilai lebih RXZ saya,“ timpal Muslih Wuri bisa dikontak di HP 08159419989 dan 081392987988. Pengapian all-in menggunakan Yamaha YZ 125 lansiran 2002. “Agar lebih baik dalam akselerasi, maka timing digeser 18 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas). Titik ledak lebih maju,“ tambah Ndawir yang pede dengan perbandingan kompresi 9 : 1 dimana volume ruang bakarnya 10,9 cc. | ogy

SPEK KOREKAN :
KARBURATOR : Keihin PWM 38 MAIN JET : 150 PILOT JET : 55 PISTON : Oversize 100 PENGAPIAN : YZ 125 (2002) KOPLING HOUSE : YZ 85 KNALPOT : AHM FINAL GEAR : 13-40 (201 M)
http://www.ototrend.com/images/stories/foto/ototeknik/tune/528tune.jpg

Jumat, 15 Februari 2013

Suzuki Satria F-150, Resep Bisa Raih Rekor 7,5 Detik



Bersama Dwi Batank joki drag bike asal Semarang, Suzuki Satria F-150 di tangannya seakan tidak ada lawan. Satria F-150 racikan Wawan Kristianto dari tim Abakura Ditra Jaya, Solo, menorehkan catatan waktu 7,5 detik. Ini merupakan rekor terbaik untuk kelas Bebek Tune-Ip 200 cc.

“Motor ini sebenarnya masih dalam tahap riset. Kemampuan sebenarnya belum bisa dimaksimalkan,” rendah sang tunner. Belum maksimal saja sudah seperti itu, apalagi kalau sudah maksimal.

Mari kita coba kupas motor keluaran 2004 ini. Wawan coba memaksimalkan ruang bakar dengan cara memperbesar diameter silinder. Asumsinya semakin besar ruang bakar maka kebutuhan bensin akan semakin lebih banyak.
Berbekal piston LHK, Wawan berusaha untuk memperbesar ruang bakar. Caranya, tentu dengan memperbesar diameter piston dan bikin lebih panjang langkah piston. “Diameter standar F-150 62 mm. Dengan aplikasi piston LHK itu, diameter berubah jadi 70 mm. Otomatis stroke ikutan naik 2 mm jadi 50,8 mm. Cc-nya jadi 195,4 cc,” bebernya.

Selanjutnya untuk mendapatkan ledakan besar di dalam ruang bakar kompresi dipadatkan. Melalui perhitungan matematika didapat perbandingan kompresi di kisaran angka 13,3:1. Dengan perbandingan kompresi sebesar ini dirasa masih cukup aman dan awet untuk mesin.

Katup masuk-buang bahan bakar juga diperbesar. Dipilih katup isap dan buang dari Kawasaki KLX250 yang punya diameter lebih besar. “Ada kesulitan saat menentukan berapa diameter katup yang akan dipakai karena akan disesuaikan dengan besar piston,” tegas Wawan lagi.
Valve KLX250 tidak bisa langsung dipasangkan karena diameternya masih terlalu besar. Untuk itu, Wawan membubut klep KLX250. Akhirnya, katup isap jadi 24,5 mm dan katup buang jadi 20,5 mm. Ukuran segitu dirasa masih cukup aman dan mampu menghasilkan tenaga optimal dan sesuai harapan .

Durasi pembukaan dan penutupan katup isap maupun katup buang juga diatur ulang. Tujuannya untuk lebih memaksimalkan pemasukan campuran bahan bakar yang disemprotkan karburator Keihin PWK 33. Katup masuk dibuat membuka 30 derajat sebelum TMA dan menutup 60 derajat setelah TMB. Sedangkan katup buang membuka di 60 derajat sebelum TMB dan menutup 30 derajat setelah TMA. “Jadi durasi katup in maupun ex ada di angka 270 derajat,” tegasnya.

Bahan bakar yang masuk sudah banyak dan juga hasil kompresi diyakini akan menjadi lebih padat. Langkah berikutnya adalah seting ulang pengapian. “Pengapian dari CDI Rextor GRM dan selanjutnya timing pengapian diseting di angka 360.”

Inilah yang bikin rekor! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston: LHK
Busi : NGK Platinum
Knalpot: MCC
Sokbreker depan: Yamaha Mio
Sokbreker belakang: YSS ninja KRR
Rem belakang : Honda Karisma
Pelek : Excel Takasogo

Yamaha Mio, Juara Matik Tune Up 200 cc Tanpa Naik Stroke!



Di ajang drag bike kelas Matic Tune up 200 cc, itu adalah kelasnya para ‘Monster’. Karena kelas ini dihuni oleh petarung andal seperti Eko Chodox, Hendra Kecil dan pembalap top lainnya.

Tapi, siapa sangka kalau Stevanus Nawier berhasil menapaki podium puncak di event Perwira Drag Bike di Purbalingga, Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Apalagi, Yamaha Mio pacuannya hanya menggunakan paking lembaran untuk mendapatkan kompresi yang padat.

Artinya, kuda besi racikan Pele dari Pells Racing (PR), Solo, Jawa Tengah ini tanpa naik stroke. Olahan power didapat dari diameter piston yang padat mengumpan energi kalor saat diletik busi.

“Setang piston dan daleman kruk as masih standar semua, hanya naik cc dan mencari tenaga dari olahan piston Honda Tiger oversize 275. Jadi, diameternya sekitar 66 mm. Ketemu total kapasitas mesin 198 cc, dibulatkan jadi 200 cc,” cuap Pele yang klimis ini.

Gebukan piston NPP diameter 66 mm diaplikasi untuk memukul ruang bakar. “Kompresi cukup rendah sebenarnya, hanya bermain diangka 12,8 : 1. Itu karena saya cari aman agar piston enggak sampai pecah. Bahan bakar pun saya pakai oktan tinggi dari bensol. Agar power maksimal,” kata pria enerjik ini.

Olahan kompresi ini dikail dari ruang bakar model gentong. Ada beberapa model kubah sesuai racikan tunner, seperti model bathub dan lain-lain.

Namun Pele pede dengan ubahan kubah model gentong ini. Sebab dengan diameter piston besar, ruang kubah otomatis lebih lebar. Mampu menampung ukuran diameter klep yang lebih besar.
Makanya klep EE ukuran 34 mm untuk in dan ex 28 mm mampu dipasang tanpa takut nyundul piston. Sebab kubahnya memang lebar model gentong. Tak heran tenaga puncak dari ledakan piston begitu besar. Sebab model gentong mampu menampung bahan bakar yang banyak dan diledakan sempurna.

Sedangkan ubahan noken as masih seperti biasa. Klep in membuka pada 38 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas) dan menutup pada 67 derajat TMB (Titik Mati Bawah).

Untuk ex-nya durasi serupa klep in diaplikasi. Hanya dibalik saja. Yaitu, 67 derajat membuka sebelum TMB dab dan menutup pada 38 derajat setelah TMA. Racikan ini terbukti optimal apalagi lift kem juga tinggi. Sekitar 11 mm.

Yang unik, perangkat akselerasi alias racikan daleman CVT justru masih memakai komponen standar. Seperti pully, belt. Tetapi untuk roller, memakai ukuran berat 7 gram.

“Saya memang memaksimalkan komponen standar, seperti halnya kruk as asli. Untuk komponen CVT saya belum perlu melakukan upgrade karena material aslinya masih mumpuni digebuk kapasitas 200 cc,” Papar Arif Kurniawan, bos Pells Jambu Alas tempat Stevanus nawier bernaung.

Biar suhu di mesin tidak terlalu tinggi, butuh pendingan sempurna. Hal ini disiasati dengan aplikasi spuyer gajah. Kan bahan bakar, selain sebagai pembakaran, juga berfungsi sebagai pendingin.

Makanya, spuyer mengaplikasi pilot-jet 45 dan main-jet 128. Kombinasi ini pas dengan karbu NSR SP yang direamer jadi 31.5mm. (motorplus-online.com)

 
DATA MODIFIKASI
 
Ban depan: Eat My Dust 50/90-17
Ban belakang: Eat My Dust 60/80-17
Pelek: SPS
Sok belakang: YSS

Yamaha Jupiter Z, 201 Meter Tembus 8,379 Detik



Yamaha Jupiter-Z besutan Imam Ceper ini kampiun balap trek lurus resmi 201 meter beberapa waktu lalu di Tiga Raksa, Tangerang. Podium teratas, berhasil diraihnya di kelas Bebek 4-tak Tune Up s/d 130 cc. Torehan waktu yang dicapai, bermain di 8,379 detik. Padahal kalau dicermati, ubahan di Jupiter-Z ini tak ubahnya spek road race MP1.

“Memang, stroke pun tetap standar. Hanya saja, kruk as ganti pakai punya aftermarket dari Jepang. Barang ini di dapat di Thailand,” ujar Utomo dari Tomo Speed Shop Mr. K-Cil M@diun selaku pemilik motor juga tim. Katanya, kruk as ini bikin engine lebih kuat dan tidak ringkih.

Dalam pembuatan engine, Tomo percayakan ke Rahadian Setiadi. Pria yang tinggal di Madiun, Jawa Timur ini meracik Jupiter Z hingga sentuh kompresi mesin di 13,4 : 1. “Sengaja tidak terlalu tinggi. Biar atasnya juga lebih jalan,” sebut Mr. K-Cil, sapaan Rahadian.

Lengkapnya, kita lihat racikan mesin langsung. Dari piston, tunner yang memang bertubuh kecil ini, mempercayakan seher Daytona diameter 55,25 mm buat menggebuk kompresi di ruang bakar.

Biar kompresi sedikit lebih tinggi, jenong piston dimainkan sekitar 3,5 mm dari permukaan pinggir bibir piston itu sendiri. Sayang, Mr. K-Cil tak sempat mengukur tinggi keseluruhan bibir piston dari lubang teratas lubang pen piston.
Begitunya agar kompresi makin padat, karena kepala silinder ikut dipapas 0,5 mm. Lalu, klep diganti pakai milik Honda Sonic berdiameter 28 mm (in) dan 24 mm (ex). Tinggi lift klep juga dibikin tinggi, agar lebih banyak campuran udara dan bahan bakar masuk ke ruang bakar.

Buat klep isap, lift dibikin jadi 9,1 mm. Sedang lift klep buang, dipatok di 9,2 mm. Mr. K-Cil sengaja bikin angkatan klep buang lebih tinggi, agar putaran atas lebih jalan. “Pernah coba dibikin lift-nya sama, tapi ternyata justru enak seperti sekarang ini. Top speed makin bertambah,” beber tunner 25 tahun itu.

Permainan klep gambot ini, juga ditemani durasi buka-tutup klep yang disesuaikan kebutuhan. Buat klep isap dan buang, durasi kem sama. Yaitu, bermain di 272º. Sedangkan LSA (Lobe Separation Angle) kem sentuh angka 103º.

Jika dilihat dari angka LSA yang diterapkan untuk bagian kem ini, memang seting yang diusung Mr. K-Cil ini bermain di putaran atas. Jadi, tak percuma kalau dari seting klep juga disesuaikan konsep putaran mesin.

Apalagi, seting perbandingan gigi transmisi juga ikut diubah agar makin teriak di putaran tinggi. Buat gigi I, pakai kombinasi 14/35 mata. Gigi II, diisi kombinasi 18/31 mata. Gigi III, tetap mempercayakan kombinasi rasio standar. Gigi IV, dibikin lebih tajam lewat kombinasi 23/26 mata.

Hasilnya, tajam! (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Camel 45/70-17
Ban belakang : Eat My Dust 60/80-17
Karburator : Keihin PWK 28 Sudco
CDI : Rextor Pro Drag
Knalpot : AHM