HALAMAN

Tampilkan postingan dengan label grasstrack. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label grasstrack. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Yamaha Jupiter-Z, Galak Pakai Pengapian Yamaha YZ125


Keperkasaan Akbar Taufan dengan Yamaha Jupiter Z miliknya terus berlanjut di kejurnas grasstrack region 2. Usai melenggang di seri perdana di sirkuit MPS di Pandeglang, Banten, kini Jupiter itu mampu menghantarnya berdiri di podium tertinggi di seri ke-2 di Tulungagung, Jawa Timur.

Tapi, ada perbedaan seting yang diterapkan antara seri I dan seri II. “Jika sebelumnya memakai pengapian milik Yamaha YZ250F, kini coba bermain dengan Yamaha YZ125,” ungkap Imam Syafei, peracik engine Jupiter milik Akbar ini.

Ada alasan kenapa Imam coba menyuguhkan pengapian set milik YZ125. Yaitu, soal limiter CDI. Ketika menggunakan pengapian YZ250F, limiter CDI hanya bisa bermain di 12.000 rpm saja. Sedangkan putaran engine Jupiter yang diubah buat keperluan balap, bisa tembus diatas itu.
“Ketika pakai CDI YZ250F, memang bisa diprogram. Tetapi untuk limiter enggak bisa diapa-apakan. Maka itu, coba ubah pakai milik YZ125 yang limiternya bisa bermain di 13.500 rpm,” ungkap Imam yang asli Semarang, Jawa tengah.

Selain itu, keunggulan pengapian YZ125 yang didukung CDI Vortex, memiliki magnet yang lebih kecil ketimbang YZ250F. Jadi, buat main di putaran atas lebih bagus ketimbang hanya memainkan torsi saja. Maka itu, Akbar yang membawa bendera tim Cargloss AHRS 86 Tech Swallow Try-Ink pun mampu melesat cepat di trek lurus.

Permainan pengapian set milik YZ125 ini juga didukung dengan pemakaian pelatuk klep model roller. Tuner 42 tahun ini coba mengganti pelatuk klep konvensional Jupiter dengan mengaplikasi pelatuk klep Honda Blade. Tentunya, ada penyesuaian di dudukan pelatuk klep dan kem itu sendiri.
“Bumbungan kem dibuat menjadi lebih membulat, tak seperti sebelumnya yang model tirus. Lift klep juga bisa dibuat lebih tinggi dengan aplikasi pelatuk klep ini,” beber tuner yang racikan mesinnya banyak diandalkan tim-tim luar Jawa.

Setelah membuat durasi kem menjadi 273 derajat, tinggi bukaan klep isapdipatok bermain di 9,3 mm. Begitu juga dengan lift klep buang. Diseting di angka 9,2 mm. Klep sendiri, mengaplikasi milik Honda Sonic dengan diameter 28 mm (in) dan 23 (ex). Lobe separation angle (LSA) kem yang diterapkan Imam di Jupiter ini, bermain di 103 derajat.

Hasil ubahan yang dilakukan ini, membuat Imam mengandalkan rasio kompresi mesin yang tak terlalu tinggi. Yaitu, cukup 13,5 : 1. Tetapi hasilnya, mampu membuat Akbar menguasai point klasemen di region 2 tuh. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Piston : Daytona (55,25 mm)
Karburator: Keihin PWK 28 mm Sudco
Main/ pilot jet: 108/50
Sok belakang: Kayaba
Knalpot: AHRS
 

Selasa, 23 Oktober 2012

Yamaha Jupiter-Z, Mengatur Timing Sesuai Tanah


Tunggangan grasstrack fokus memperbesar torsi. Semakin besar torsi, semakin besar daya cengkram ban ke tanah setelah menerima tenaga dari putaran mesin. Tapi, enggak cukup dengan meningkatkan momen puntir. Namun agar mesin menghasilkan torsi besar dan aman kudu atur ulang timing pengapian.

“Kalau di road race, ban cuma ketemu basah kering. Tapi, di grasstrack permukaan sirkuit beragam. Enggak pas timing pengapiannya resikonya mesin bisa overheat. Kalau sudah overheat, mesin jebol deh,” beber Rudi, tunner tim Kapolres Prabumulih.

Rudi membawa Novi Andrian yang jadi juara umum di Bupati Muara Enim-Yonkav 5/Serbu Cup (BMEYC) 2012, Kejurnas Grasstrack 2012, Region I, Seri IV, Ceta, Muara Enim, Sumatera Selatan, beberapa minggu lalu (30/9).

Betul, permukaan sirkuit grasstrack pastinya enggak bakalan selalu sama setiap serinya. Bisa jadi tanah kering dan keras, mungkin juga berlumpur, atau setengah kering setengah basah yang ada di tiap trek grasstrack.

“Tanah di sirkuit Muara Enim agak lunak. Kena basah sedikit licin,” kata Rudi yang membawa nama speed shop Rangga Lawe, Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
Rudi bermain aman. Tanah yang agak lunak enggak bisa dipaksa untuk mematok timing pengapian tinggi. “Kalau treknya keras dan enggak hujan, timing CDI BRT-Bintang Racing Team tipe I-Max dipatok 41 sebelum TMA,” ulas Rudi.

Karena kondisi tanah di Muara Enim yang sedikit lembek dan licin, Rudi mematok timing 40 sebelum TMA. Artinya, momen piston menggebuk api semburan dari busi dibikin sedikit lambat dibanding trek tanah yang kering.

“Seandainya dipaksakan tetap 41 sebelum TMA, mesin enggak lama akan overheat. Itu pengalaman beberapa balapan dengan tanah yang agak lembek,” urai Rudi yang memang cuma itu nama aslinya. Namanya pendek, tapi akalnya panjang.

Pengapian pun menggunakan magnet Yamaha YZF250. Rudi akui magnet SE YZF250 bikin putaran mesin rata dan lebih cepat mengangkat torsi. Berbeda dari SE 2-tak seperti Yamaha YZ125 akan bermasalah kalau treknya basah dan lembek

Rudi pun masih tetap bermain aman. Timing bukaan klep dibikin lama supaya suplai bahan bakar deras. Banyak bahan bakar yang masuk, kan akan membantu proses pendinginan mesin.

Valve in membuka 39 sebelum TMA dan menutup 59° setelah TMB. “Saya pakai piston diameter 55,25 mm. Totalnya jadi 129 cc,” tutup Rudi. (motorplus-online.com) 
 
 DATA MODIFIKASI
Ban belakang : Swallow Terra Cross 90/100-16
Ban depan : Swallow Terra Cross 70/100-19
Karburator : Keihin PWK 28
Knalpot : RPM
Sokbreker : KYB

Kamis, 17 Mei 2012

KAWIN SILANG LARI KENCANG


Piston dan Silinder Yamaha Force -1: KAWIN SILANG LARI KENCANG
    Bagi Force-1 mania, jangan buru-buru buang silinder bekas bila piston telah mencpai oversize penghabisan (1,00). Sebab agan-agan bisa meniru langkah cerdik mekanik balap. Caranya, tentu saja mengakali lewat pembesaran silinder dan kawin silang piston. 
Asyiknya, umur blok bisa panjang hingga enam kali oversize lagi. Selain bisa irit uang untuk beli blok silinder, lari motor bagaikan pelor (kencang).

CELAH BESAR
      Soal irit-iritan, mari simak hitungan mekanik dari Surabaya ini. Misalnya silinder sudah oversize  1,00. Lalu, aus dan besuara berisik. Itu tandanya rumah silinder (boring) minta dikorter lagi. Sayangnya, pabrikan tak menjual seher besar. Misalnya yang berukuran 1,25 ke atas.
      Otomatis mesti beli blok standar baru, yang harganya tentu mahal. Itu belum termasuk piston dan ringnya, lo! Namun, sebenarnya ada cara untuk menghemat. Blok tadi bisa dijejali piston motor lain. Jadi, sekali lagi : jangan dibuang dulu blok itu.
      Pertama, pakai saja piston Yamaha RX-S. Hitung-hitung cuma beli piston set! Memang, pemukul kompresi saudara kandung ini lebih besar. Standarnya 54 mm. Bila dibandingkan piston Force-1,
 oversize 1,00, seher standar RX-S lebih besar 1 mm. Oya, saat mengkorter boring, celahnya agak di perbesar guna mencegah piston ceket (macet).
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEho6HUAAt4OcdCXwH0CyAAyx0KeNK4NDQ8VDsKhh110OaoI1Jj-HGVvPLcBN7-7sE4MKDBf5YGvJe3nu6um3IlYNAl9y-D4UtrxncKIUYK7apdgcKiKAD98uaFdjykAcWCr_Lb06Ptdy89N/s200/1.jpg
Piston RX-S (kiri) dan Piston Force-1 (kanan)
      Kalau celah piston silinder standarnya 0,03, minta ke tukang bubut agar dibikin 0,05. Sebelum blok silinder dipasang, paking bagian bawah kudu ditambah 4 lembar atau setebal 3 mm. Sebab pakai piston RX-S bikin bibir atas piston nongol ke luar blok. Kalau enggak diganjal, pukulan piston bakal menghantam kepala silinder. Pin piston tak perlu diubah karena ukuran dan posisinya sama dengan asli Force-1. Nah bila nanti silindernya aus lagi, Anda bisa lanjut memasang piston RX-S oversize 0,25 hingga 1,00.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgLR6N73wHKR2pRnmWiaRTfhT87VyQppfRztBWUVBWOHoKgOSMJi9BcArIyuI_AB8Y2FYSV6-nPZyhDDAmuC7trauihTwopG_Rp6OqlXgmhXUIakblDXV9TomLdVr_g-Xq3ejQZqS-SZjDZ/s200/2.jpg
Kombinasi pin
       Habis? Belum! Masih bisa dijejal piston RX-Z (56 mm). Tetapi, ada sedikit yang kudu disesuaikan. Pin Force-1 dikombinasi pin RX-Z. Cukup di bagian kuping atau ujungnya. Sebab panjang pin piston Force-1 agak pendek dibandingkan RX-Z. Oya, pemakainan piston RX-Z cuma mentok di oversize 50. Selanjutnya, blok tak bisa dipakai karena dindingnya terlalu tipis. Soal kencang, tinggal setting knalpot dan karbu, motor dijamin melejit. Apalagi kapasitas ruang bakar melonjak drastis.
       Contohnya, pakai piston RX-Z, isi silindernya naik menjadi 130 cc. Wuss...wuss..wuss..!

Senin, 04 Juli 2011

Yamaha Force 1, Mengacak Dominasi Senior




Lubang exhaust salah satu penentu karakter mesin 2-tak. Agar mesin mampu berkitir tinggi, lubang buang harus dibabat lebih tinggi.

Yup, seperti di Yamaha Force-1 geberan Rudi yang mengacak-acak dominasi kekuatan tracker senior di kelas bebek modifikasi 2-tak. Bersama Force-1 biru ini, pemuda asal Belitung itu finish kedua setelah Akbar Taufan, pemegang tampuk Juara Nasional Senior 2010.

Bibir atas lubang buang dibuat agar lebih tinggi jadi 26 mm. Itu diukur dari bibir atas blok. Begitupun lebarnya, dibikin hingga 38 mm.

Komposisi ini, membuat mesin lebih mampu berteriak di putaran atas. “Nafas juga lebih panjang,” bilang Uyung, mekanik asal Tasikmalaya, Jawa Barat yang menanganinya.

Joki Force-1 milik Ahok yang juga pemilik tim HK88 Bangka ini juga kudu pintar dalam menahan gas. Supaya rpm mesin tidak mudah turun. Karena karakter lubang buang lebih tinggi, bikin mesin ngok di putaran bawah. Makanya joki kudu pintar menahan gas supaya tidak turun.

Begitunya urusan katup buluh alias valve, Uyung tidak menggunakan merek ternama yang biasa dipakai para tunner. Tapi, cukup pakai valve dari Yamaha RX-Z aja. Ada alasan khusus lho. Karena kalau di Belitung meski treknya panjang, tapi lintasannya agak gembur oleh pasir kuarsa.

"Sedang V-Force lebih enak buat main di putaran atas terus. Itu agak kurang cocok untuk pemakian di Belitung ini. Tapi, ketika pakai valve RX-Z, putaran bawah malah lebih cepat dapat. Tenaga juga lebih spontan,” ungkap pria 30 tahun itu.

Apalagi, semburan bensol dan udara dipasok part pengabut venturi cukup besar. Yaitu, pakai Mikuni TMX 35 mm. Ditemani main-jet 340 dan pilot -jet 45.
Selain lubang buang dan transfer port, permainan seting di kepala silinder juga ikut menentukan ketangguhan engine. Maka itu, head cylinder standar dipapas 2 mm. Lalu, sudut squish juga dibuat ulang jadi 13º berikut lebarnya 7 mm. Volume ruang bakar sekarang pun menjadi 8,7 cc.

Dari ubahan di bagian kepala silinder dan piston, kompresi mesin yang didapat sekarang mencapai 7,5 : 1. Pengukuran didapat dengan metode buret. Wah, angka yang cukup tinggi ya! Tidak salah jika bensol dan oli campur Motul 800 memakai perbandingan 1 liter : 40 ml. “Tapi kalau kondisi cuaca panas, bisa hingga 1 : 45 ml,” timpal pria berambut sebahu ini.

Penyesuaian dari power yang keluar, ikut dibantu lewat ubahan di gigi rasio. Agar teriaknya power sesuai kebutuhan, mulai dari gigi I hingga IV, semua diganti paduan gear close ratio.

Gigi I, andalkan 14/30 (2,142). Kemudian gigi II, 18/ 26 (1,444). Sedang gigi III, 20/ 24 (1,2). Terakhir, gigi IV pakai perbandingan 22/ 23 (1,045). Tuh kan, lihat saja penurunan dari mulai dari gigi II hingga IV. Serba rapat, pantas saja tenaga terdengar sahut-sahutan. “Karena besarnya power bawah, start biasanya dari  gigi II,” bilang Uyung yang sudah lama malang melintang di dunia garuk tanah.


Piston cukup pakai oversize 75!
Turut mengatur kinerja power, saluran buang ikut disesuaikan. Untuk itu, pacuan yang dibesut Rudi ini mengaplikasi tabung knalpot milik Yamaha YZ85. Tapi, volume tabung sudah disesuaikan terlebih dahulu. Termasuk juga bentuk leher knalpot.

Agar sesuai rangka dan dimensi pacuan grasstrack, leher knalpot milik special engine (SE) ini dibuat memutar dulu. So, posisi leher berada tepat di bawah mesin. “Mantapnya, ubahan ini pas banget dengan kebutuhan power mesin memang butuh torsi,” jelas mekanik ramah ini.

Terakhir! Untuk membantu dongkrak putaran bawah, pengapian YZ85 dipasang. Mulai dari magnet hingga koil aplikasi milik SE85 itu. Terbukti, putaran bawahnya memang galak! (motorplus.otomotifnet.com)

DATA MODIFIKASI
 Ban depan : Swallow 70/100-19
Ban belakang : Swallow 90/100-16
Gas spontan : Yamaha YZ85
Sok belakang : Kayaba merah
Sok depan : Yamaha YZ85