HALAMAN

Tampilkan postingan dengan label roadrace. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roadrace. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

Yamaha Jupiter-Z, Kejar Power Teratur


Bermain di Kejurnas MotoPrix Region 2 seri II, Purwokerto, Jawa Tengah lalu, pacuan Sulung Giwa terlihat stabil. Pembalap andalan Yamaha Yamalube NHK 3M FDR Ridlatama (YYN3FR) teratur mengumpan power dari mesin ke roda belakang. Padahal, posisi start hanya pada grid ke-4.

Artinya, ada tiga pembalap di depannya, dengan kecepatan yang lebih baik. Apalagi sempat fight dengan Willy Hammer dari tim Honda Rinjani MPM NHK Kawahara, lebih dari setengah race yang keliling 20 putaran sirkuit GOR Satria Purwokerto. Ternyata, kuncinya mengatur tenaga optimal untuk sirkuit yang berakter high speed ini.

Sirkuit GOR Satria memiliki karakter yang unik. Dengan jarak 1 kilometer, tetapi dihiasi 10 tikungan. Iya, tikungan ke kanan dan ke kiri juga dong. Walaupun punya trek yang tak terlalu lebar, namun bertipikal rolling speed. Hanya satu chicane yang cukup memperlambat laju kuda besi balap.

“Makanya, saya fokus putaran menengah dan atas. Akselerasi atau power bawah sedikit dikorbankan. Namun mesin awet dengan rasio kompresi 13,5 : 1,” buka Widya Krida Laksana, tukang korek mesin andalan YYN3FR.

Gebukan kompresi yang dibakar bensol ini ditahan oleh piston Daytona berdiameter 55,25 mm. Komposisi ini pas untuk kelas MP1 yang boleh bore up untuk pacuan 125 cc seeded. Kan aslinya Jupiter-Z hanya 110 cc.
Tak heran kalau power terlihat halus setiap keluar tikungan. Karakter Sulung Giwa yang cenderung seradak-seruduk, mampu mengikuti ritme dan karakter sirkuit. Caranya, karburator diseting sedikit basah dengan komposisi pilot jet 62 dan main jet 118 yang disemburkan Keihin PWK Sudco 28 mm.

Apalagi race MP1 alias 125 seeded ini start pada siang hari. Yaitu, pukul 13.30 WIB dengan cuaca terik matahari yang lagi lucu-lucunya. Wajar kalau butuh setingan karbu basah.

“Jika karbunya diseting kering, mesin bakal teriak dengan kehabisan power. Yang bahaya, mesin bisa-bisa overheat dengan resiko piston macet,” yakin Gendut saapaan gaul mekanik muda ini.

“Untuk noken as, masih seperti korekan lama dengan lift klep dibuat 9,4 mm. Tapi, racikan paling mujarab, ada pada kombinasi rasio. Gigi I, 13/33 mata. Gigi II, 18/32 mata. Gigi III, tetap pakai standar dan gigi IV main di 21/24 mata,” jelas Gendut yang giginya kering karena Sulung juara. Senyum terus sih. Ha,ha,ha...

Racikan rasio tersebut, membuat lengkingan mesin tidak menjerit kehabisan power. Tapi, tetap melaju halus dengan final gear 14/42 mata sesuai permintaan power mesin yang stabil.

Selamat!. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR MP 76 90/80-17
Pelek : SSS 1,60 x 17
Sok belakang: Penske
Klep: Sonic
Karbu : Keihin PWK Sudco 28
 

Yamaha Jupiter-Z, Kejar Power Teratur


Yamaha Jupiter-Z ini jadi andalan Widodo yang kerap turun latihan balap di Sirkuit Gokart Sentul, Bogor, Jawa Barat. Malah, bukan hanya di Sentul.

Untuk bertarung di trek Monasco pun, Dodo suka pakai ini. Penasaran dengan hasil garapan bengkelnya sendiri Dovi Racing Team (DRT), Dodo ikuti fun race di Sentul beberapa waktu lalu. “Hasilnya, menang di kelas 125 cc,” senang Dodo.

Jurus jitu pertama yang dilakukan Dodo, ganti penggebuk ruang bakar pakai diameter 54 mm dari FIM Piston. “Bibir piston saya buat mendem sekitar 0,5 mm dari atas blok silinder. Kondisi ini bikin mesin jadi square. Iya, karena kondisi stroke dan bore sama. Ya, 54 mm. Power merata,” sebutnya.

Untuk memperlancar pasokan bahan bakar, Dodo aplikasi karbu Keihin PE24 mm. “Karburator direamer lagi sekitar 2 mm. Sekarang jadi berdiameter 26 mm,” kata Dodo. Sekadar untuk bisa membuat motor kencang, trik yang dilakukan Dodo ini memang tak terlalu ekstrim pada ruang bakar dan karburator. Makanya, kompresi cukup bermain di angka 11,5 : 1. Toh masih aman buat ‘minum’ Pertamax Plus.
Ubahan lainnya, seperti kem orisinal masih dipakai. Tapi, dicustom ulang hingga berdurasi 250 derajat. “Fokusnya, buat kejar atau ngisi tenaga di putaran bawah. Biar lebih galak,” tambahnya.

Sebagai penyalur power dari engine, area kopling juga diobok-obok. Kampas kopling, pakai punya Suzuki FR 80 yang dikombinasi per kopling Suzuki Smash.

Alasan kampas kopling pakai punya Suzuki FR, karena dirasa lebih kuat dan lebih tebal. “Sedangkan pemakaian per kopling Smash, bentuknya lebih renggang tetapi kuat,” tutup Dodo dari Jl. Utan Panjang 3, Kemayoran, Jakarta Pusat. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban : FDR 90/80-17
Ban belakang : Battlax 140/70-17
CDI : BRT Dual Band
Koil : Suzuki RM 85
DRT : 0838-9319-2977

Senin, 22 April 2013

Honda Supra X 125, Jurus Kompresi Kagetkan Indoprix



Buat menaklukkan sirkuit Gokart Sentul dengan Honda Supra X125, rasanya tidak butuh kompresi terlalu tinggi. Apalagi, bahan bakar yang dipakai Pertamax Plus. Rasio kompresi mesin, cukup bermain di 12,2 : 1. Perbandingan ini, terbukti cukup menjanjikan bagi bebek sayap tunggal.

Buktinya, Wahyu Widodo bisa ‘bicara lebih’ ketika membalap di salah satu club event yang berlangsung di sirkuit itu dua minggu lalu. Terlepas dari itu, Supra X125 yang turun di kelas Bebek 4-Tak 125 cc Tune Up Seeded ini pernah dicoba bermain rasio kompresi mesin 12,5 : 1, lho.

“Sebelum balap, kita memang lakukan simulasi seminggu sebelumnya di sirkuit ini. Ketika pakai rasio kompresi mesin 12,5 : 1, piston selalu kalah. Baru 5 lap, sudah enggak kuat. Permukaan atas seperti meleleh karena terlalu panas,” ungkap Suhartanto selaku tunner tim Honda Daya Daytona NHK IRC.
Berasal dari simulasi itulah akhirnya Suhartanto coba menurunkan rasio kompresi mesin. Hingga, akhirnya didapat angka 12,2 : 1. Dengan angka ini, mesin jauh lebih aman buat berlari 25 lap.

Penurunan itu didapat dari piston diameter 53,4 mm yang bagian dome alias kubahnya dipapas hingga menjadi 2 mm. Itu, jika diukur dari bibir piston atas paling pinggir.

“Sebelumnya, tinggi dome bermain di 3 mm. Resikonya bermain kompresi tinggi dengan bahan bakar Pertamax Plus, ya seperti itu sih,” timpal Kupret, sapaan kondang Suhartanto.

Ditemani durasi kem yang bermain di angka 270 derajat, klep aplikasi merek EE. Diameter klep isap dibikin 29 mm dan klep buang 24 mm. Lalu, tinggi angkatan klep dibikin jadi 9,1 mm buat klep in dan 9,3 mm buat klep ex. Kinerja klep juga didukung dengan per klep BRT-Bintang Racing Tea, yang mampu diajak buat berkitir di rpm tinggi.
Enggak salah juga kalau Kupret memadukan CDI BRT-Bintang Racing Team, I-Max yang limiter-nya diseting di 14.600 rpm. Timing pengapian tertinggi, dipatok di angka 38 derajat di 5.000 – 9.000 rpm. Sedangkan timing terendah bermain di 34 derajat di angka 14.000 rpm.

“Seting ini cocok dengan karakter Wahyu yang lebih lembut membuka dan menutup gas di tikungan. Baginya, tak perlu power galak di putaran bawah. Tapi, cenderung power tengah-atas yang diinginkan,” beber Kupret yang ketika dihubungi tengah mempersiapkan Honda CBR 250R buat turun di kejurnas Sport 250 cc. Tetapi ke depannya, riset akan terus berlanjut. Karena menurutnya, seting saat ini belumlah maksimal. (motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI
Ban: IRC 166 90/80-17
Sok belakang: Daytona
Cakram depan: Daytona
Knalpot: AHM
 

Yamaha Jupiter Z, Bukti Harlan Fadillah Belum Habis



Disaat penikmat balap berspekulasi dengan persaingan tim pabrikan Yamaha dan Honda, ternyata ‘nyelip’ satu pembalap yang tidak diperhitungkan merangsek ke barisan depan. Yaitu, Harlan Fadillah.

Seolah ingin menepis anggapan bahwa dirinya sudah ‘habis’ sebagai racer seeded nasional, pembalap tim Pertamina Enduro BRT Nissin ini finish di podium kedua ketika balap di Sirkuit Karting Sentul, Bogor, Jawa Barat, dua minggu lalu.

Keberhasilan Harlan di kelas Bebek 4-Tak 125 cc Tune Up Seeded, ternyata tidak lepas dari Sang Dalang yang berada di belakang layar. Yup, Tomy Huang. Faktor penentu, ada pada kompresi yang tepat dan pengapian yang pas.
Perbandingan rasio kompresi mesin dibikin 12 : 1. Angka ini, hasil olahan piston milik Daytona yang punya diameter 55,25 mm dengan head silinder andalkan bahan beryllium copper yang tahan panas buat sitting klep.

“Jika tidak memakai bahan itu, mesin akan cepat panas. Apalagi bahan bakar memakai Pertamax Plus,” jelas Tomy Huang.

Sedangkan pada bagian pengapian, mengandalkan CDI BRT-Bintang Racing Team I-Max Super Pro yang dikombinasikan magnet Yamaha YZ125.

“Strateginya, pada lap 1 sampai pertengahan pakai map 34. Sedangkan pada lap pertengahan, map diturunkan di nomor 33 agar mesin tidak terlalu panas. Baru ketika menjelang dua lap terakhir, map dinaikkan kembali ke nomor 34,” beber pria yang motornya langsung dibeli tim lain di Sentul Kecil itu.
Untuk menyempurnakan semburan bahan bakar, dipilih Keihin PWK Sudco 28 mm. Semburan uap bahan bakar yang masuk diatur klep in diameter 29 mm dan dibuang klep ex 24 mm. “Nah, buka-tutup klep itu diatur kem yang dibikin 265 derajat buat in dan ex,” ungkap Tomy.

Meski bisa menepis bahwa dirinya belum habis, tetapi Dewi Fortuna belum berpihak padanya. “Di lap terakhir, persnelingnya turun sendiri. Padahal, podium pertama di depan mata,” keluh Harlan. Masih untung juara 2. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Master rem : Nissin
Cakram: Nissin
Sok belakang : Ohlins
Knalpot  : R9

Yamaha Jupiter Z, Juara Setelah Akali Dehidrasi Bahan Bakar



Engine pacuan balap pun bisa jadi ‘dehidrasi’. Seperti dialami Yamaha Jupiter-Z yang dipacu Anggi Permana kala turun di club event di Sirkuit Gokart Sentul, beberapa waktu lalu.

Ketika bertarung di race 1 kelas Bebek 125 cc 4-Tak Tune Up Seeded, Jupiter Z ini diberi ‘umpan’ rasio kompresi mesin 11,9 : 1. Rupanya, perbandingan ini masih terlalu tinggi.

Ditambah panasnya mentari kala itu, membuat aspal juga seakan ikut memanggang engine. Akibatnya, setingan pacuan yang aplikasi bahan bakar Pertamax Plus ini lebih pilih bermain aman. Artinya, enggak ngotot untuk tampil di deretan terdepan.

“Karakter Pertamax Plus memang seperti itu. Lebih panas ketimbang Bensol. Kalau salah seting atau salah terapkan rasio kompresi mesin, yang kalah di part mesin,” ujar Haris Sakti, tunner tim Yamaha Yamalube FDR KYT Trijaya.

Memang, terlihat usai race 1. Salah satu part yang ‘terluka’ oleh panas itu adalah piston. Piston diameter 55,25 mm yang jadi andalan di Jupiter Z ini, sedikit terluka di bagian permukaan. “Sebenarnya kalau setingnya ketemu, piston masih kuat-kuat saja,” sebut Mletis.
Untuk menuju race 2, akhirnya Mletis putar otak dengan menurunkan rasio kompresi mesin ke 11,8 : 1. Tujuannya, agar mesin enggak step macam bocah yang terkena panas tubuh tinggi. Toh, angka ini juga dipilihnya karena beberapa pertimbangan. Salah satunya, cuaca yang tak terlalu terik lagi.

Kali ini, tinggi dome piston dibuat 1,5 mm jika diukur dari bibir terluar permukaan piston. Lalu, posisi mendem piston dari permukaan blok silinder teratas dibuat jadi 0,7 mm.

Agar rasio kompresi diinginkan sesuai, kepala silinder juga ikut dipapas hingga 0,3 mm. Setelah itu, Mletis yang asli Jogja ini pun ikut menyesuaikan timing pengapian. Pakai CDI Rextor tipe Pro Drag, timing tertinggi dibuat jadi 33 derajat di 9.000 rpm. Sebelumnya, bermain di 32,5 derajat. Limitter CDI, dipatok di 14.800 rpm. “Sebenarnya bisa 15.200 rpm,” ujar tunner muda berbakat ini.

Wajar saja kalau kitiran mesin bisa sentuh 15.200 rpm. Itu karena Mletis aplikasi klep berbahan titanium dari special engine Honda CRF250. “Per klep pakai Akutagawa spesialis titanium,” katanya.

Usaha yang dilakukan tak sia-sia. Anggi yang kala itu masih dinaungi cidera pergelangan tangan pun mampu podium pertama di race 2. (motorplus-online.com)




DATA MODIFIKASI

Ban: IRC 166 90/80-17
Cakram: TDR
Sok belakang: YSS
Master rem: Suzuki Thunder 250
Karburator: Keihin PWK Sudco 28 mm
 

Yamaha Jupiter-Z, Juara 1 Layaknya Jagoan Film Laga



Drama film action di televisi, memang bisa bikin orang deg-gegan kala menonton. Biasanya, pemeran utama yang merupakan jagoan pembela kebenaran, pasti selalu kalah dahulu. Lantas diakhir cerita, baru mendapatkan kemenagan dan merayakan kemengan.

Tak ubahnya sajian drama balap yang disuguhkan Fitriansyah Kete yang bertarung di kelas Bebek 4-Tak 110 cc Tune Up Seeded. Drama balap ini, terjadi beberapa minggu lalu di club event yang digelar di Sirkuit Gokart Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Untuk club event ini, Kete panggilan akrab pembalap tim Yamaha Yamalube Nissin SMF KYT TJM, bisa dibilang jadi pemeran jagoan.  Agar bisa bertarung dengan rival di trek aspal, Kete dibekali mesin Yamaha Jupiter Z racikan tunner kondang, Hawadis. 

Ngomongin soal engine, sudah enggak diragukan lagi deh. Pasti kencang. Piston sudah mengadopsi diameter 52 mm yang dibikin mendem 0,5 mm dari permukaan blok atas. Di bagian head dibikin tipe bathtub. Serta dibekali klep in 27 mm dan ex 23 mm. Buka-tutup klep, diatur oleh kem yang dibikin durasi 271 derajat.
Konfigurasi engine ini, paling pas dengan hasil rasio kompresi 12,9 : 1 untuk membakar Pertamax Plus yang wajib digunakan di event itu. Agar campuran bahan bakar dan udara bisa sempurna, dipilih karbu Mikuni Sudco 24 yang dijejali pilot jet (pj) 160 dan main jet (mj) 35. Untuk kondisi sirkuit ini, paling pas pakai knalpot R9 Racing Generation.

Saat pertempuran awal alias race pertama, Kete sempat mengalami kekalahan dengan finish di urutan kedua. “Saat race pertama, motor dirasa kurang maksimal dan mberebet,” bilang Kete, yang beda 0,882 detik dengan rival terdepan yang menggunakan Yamaha Jupiter Z1.
Selidik punya selidik, Yamaha Jupiter-Z tunggangan Kete sedikit mengalami trouble soal pemilihan pilot dan main jet. “Pembalapnya bilang, terlalu basah. Jadi, motor ada gejala mbrebet saat plintir gas. Sehingga main jet diturunkan jadi 155,” kata Hawadis yang keturunan Madura itu.

Setelah kekurangan setingan di race pertama sudah diperbaiki, pertempuran terakhir saat balapan atau race 2 berbuah masksimal. Perjuangan Kete serta kecerdikan Hawadis, membuahkan hasil sempurna. Pasalnya, Kete berhasil menusuk Yamaha Jupiter Z1 yang sudah aplikasi sistem injeksi.

Endingnya, doi finish di posisi pertama dengan best time 58,1 detik. Tuh kan, benar. Jagoan selalu kalah diawal dan bahagia diakhir. Seperti film action dong! He..he...he. (motorplus-online.com)


DATA MODIFIKASI
CDI: BRT Super Pro
Pelek: Racing Boy
Kaliper: Nissin
Knalpot: R9 Generation
Ban: IRC Razzo 90/80-17
 

Yamaha Jupiter Z, Modal Goncang Tim Pabrikan



Bermodalkan Yamaha Jupiter-Z spesifikasi pemula, Zefri Hadi, andalan tim BTKS NHK Pertamina Enduro (BNPE), Medan, Sumatera Utara, menggoyang tim-tim pabrikan. Zefri sukses menyabet poin tertinggi untuk MP1 saat MotoPrix Region 1, seri I yang berlangsung di sirkuit Bangkinang, Riau, beberapa minggu lalu. Tim BNPE hanyalah tim privater. Hebat, kan!

Modal BNPE saat di Bangkinang mengandalkan spesifikasi mesin Bebek 4-tak 125 cc Tune Pemula (MP3). “Waktu coba pakai yang memang spek untuk MP1, tenaganya kelewat besar. Pembalapnya butuh tenaga yang lembut,” beber ALin Lo, tunner BNPE.

Memang, baru tahun ini Zefri menginjakan kategori pembalap seeded. Tahun lalu dia masih bertarung di kategori pemula, MP3 dan MP4.

“Karena itu, ada beberapa perbedaan dasar saat spek MP3 dipakai untuk MP1,” kata Alin yang bermarkas di Jl. Kenanga Raya, Pasar 6, Setia Budi, Medan.
Pastinya MP3 hanya menganut klep isap-buangnya lebih kecil dibanding diameter payung MP1. Perbedaan ini menyangkut batasan yang ditentukan PP IMI untuk regulasi teknik MP1 dan MP3.

“Klep in dan out 26/23 mm. Kalau untuk MP1, diameter klep isap dan buang ada yang pakai 28/24, ada juga yang pakai 29/24,” ujar Alin yang beranak dua.

Awalnya Alin lebih memilih kombinasi payung klep 28/24. Kompresinya saat awal pengetesan 13 : 1 dengan spesifikasi mesin MP1. “Tapi, tenaga motor dirasakan kege-deaan sama pembalap. Akhirnya, kita lebih pilih yang 26/23 seperti motor pemula tahun lalu. Supaya tenaga cepat dihasilkan kompresinya jadi naik, 13,2:1,” urai keponakan Ahon, tunner mesin empat langkah.
Wah, keponakan Ahon? Nah, inilah kuncinya. Kem Jupiter-Z yang diset Alin, bikinan Ahon. He.. he.. he.., memang Ahon enggak nongol lagi di kancah balapan nasional, tapi bicara noken-as dialah perancang yang terbaik. Beberapa tunner papan atas Jupiter-Z masih menggunakan jasa Ahon untuk menggarap noken-as.

“Penyesuaian, di karburator. Spesifikasi MP3, karburator Keihin 28 mm. Berbeda, kan kalau MP3 aslinya yang pakai karbu diameter venturi 24 mm,” bilang Alin.

Siasat Alin inilah yang menghantarkan Zefri mengacak-ngacak tim pabrikan. Mesin pemula, bermain di kompresi dan setting ulang karbu bikin tenaga merata. Paling penting, pembalap enggak dibikin keringatan karena kebesaran tenaga. (motor.otomotifnet.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : FDR 80/90-17
Ban belakang : FDR 80/90-17
Knalpot  : AHM
CDI : Rextor
Sokbreker belakang : Daytona

Jumat, 15 Februari 2013

Honda New Blade 110R, Bermain Kompresi Tinggi



Tenaga Honda New Blade 110R yang dipakai Yogi Hermana stabil. New Blade yang digunakan andalan tim Honda Intrac Enduro KYT Medan (HIEKM) di kelas MP1 untuk seri I Street Fire Road Race, OMR Honda Medan, sanggup mengimbangi sirkuit yang banyak tusuk kondenya.

Enggak perlu gantung kopling, tutup gas dan gas dibuka halus, New Blade langsung keluar dari tikungan dengan stabil di trek alun-alun Stabat, Kab. Langkat, Sumatera Utara.

“Bermain kompresi aja kuncinya. Harus berani tinggi supaya tenaganya bisa kejam di putaran bawah. Keluar kelokan bisa lebih cepat,” ujar Bambang Wahyudi yang jadi tunner andalan tim HIEKM, Medan itu.

Juruk korek yang asli Medan itu memang sudah dua tahun menangani Blade. Tunner yang bermarkas di Kita-Kita Racing (KKR), Jl. Setiabudi (ring road), Medan, ini sudah mulai paham bagaimana mengatur kompresi New Blade untuk menaklukan trek patah-patah.
“Kalau sirkuitnya panjang-panjang, saya buat kompresinya maksimal 12,5 : 1. Tapi, di sirkuit pendek dan banyak putar baliknya kompresi minimal 12,7 : 1,” kata Benk-Benk, panggilan akrab Bambang Wahyudi. “Kereta (motor, red) jadi cepat keluar tikungannya,” timpal Yogi yang juga turun di MotoPrix Region 1, Sumatera.

Tapi, Benk Benk enggak mau beresiko. Dia sempat bilang kalau kompresinya sering menggunakan 13 : 1 untuk sirkuit seperti di Alun-alun Stabat. Tapi, kali itu dia hanya mematok kompresi di angka 12,7 : 1.

“Soalnya ketahuan bensol yang kita dapat bercampur sedikit air. Kalau dibikin 13 : 1, mesin cepat panas. Lama-lama mesin bisa ngejem (macet, red),” tutup Benk Benk. Bensol palsu tuh!

SUDUT SOK DIMAJUKAN

Bukan cuma kompresi yang diatur ulang. Tapi, ada bagian lain yang jadi rumus jitu untuk menaklukan trek patah-patah. Tahu kalau akan berhadapan dengan sirkuit yang semua tikungannya putar balik, Bambang Wahyudi, mengubah sudut rake sokbreker belakang.

“Saya majukan 15 derajat pegangan atas sok belakang dari standarnya. Ini pun mengikuti penggantian swing arm,” ulas Benk-Benk yang juga jadi pembina mekanik balap Honda untuk jaringan Honda di Sumatera Utara.

Memang, lengan ayun yang diambil dari motor lain membantu New Blade tunggangan Yogi Hermana lincah menyikat semua u turn alias belokan putar balik. “Seandainya sirkuitnya panjang dan tikungannya pun panjang saya cukup pakai standar,” urai Benk-Benk. (motorplus-online.com)

Kawasaki Ninja 150R, Bukti Eksistensi



Ajang balap kelas sport masih jadi primadona, terutama di seputar Jawa Barat. Mulai dari club event hingga kejurda, starter yang turun di kelas mesin dua langkah ini enggak sepi.

Salah tahu tim yang eksis dan sering menang di kelas ini yaitu tim BRC MG2 yang dipawangi Gina Gunawan. Mengandalkan Kawasaki Ninja 150R lansiran 2007, pacuannya terjun di kelas Sport 2-Tak s/d 150 Open. Posisi tiga besar kerap diraih dengan mudah, seperti juara 1 di LA Light seri Kuningan, Jabar.

“Dari dulu memang eksis di balap sport. Kesannya lebih gentle bila ikut di kelas ini. Apalagi jika sudah dengar raungan suara knalpotnya yang melengking. Terasa gahar,” ujar Gina yang buka bengkel di Jl. Raya Cicadas No. 36, Jatiwangi, Majalengka, Jabar.

Agar tetap di posisi 3 besar, Gina tetap mengacu ubahan mesin yang diusung bermain aman sesuai regulasi kelas sport. Meskipun terlihat sederhana, namun ketangguhan engine putaran atas dan bawah sangat jelas terasa powernya.

Gina lantas coba berbagi resep dengan membeberkan sedikit rahasia ketangguhan dari mesin Ninja tersebut. “Pertama mulai mesin, piston tetap mengandalkan aslinya,” aku pria berbadan kurus, tinggi dan langsing.
Namun untuk mendapatkan tenaga yang gahar dan padat, pada bagian kepala silinder dipapas agar power bawah ikut terdongkrak. Meskipun tidak banyak, Gina mangaku head dipapas 0,5 mm saja. Bentuk kubah dan squish juga ikut diubah.

Lebar squish sekitar 6 mm dengan derajat squishnya 14 derajat. Katup buluh masih menggunakan aslinya, tapi sedikit dimodifikasi menyesuaikan ubahannya saja. Sedang pengapian menggunakan Ninja model lawas yang menerapkan arus AC.

Pada saluran bahan bakarnya, juga ikut dibenahi. Karburator standar Ninja yang Keihin PE 26 itu direamer jadi 30 mm. Ditopang penerapan pilot-jet 60 serta main-jet 140, bahan bakar Pertamax Plus yang digunakan dicampur oli samping Castrol Racing 747.

Hasilnya dirasakan Ahmad Black yang dipercaya menunggangi kuda besi andalan tim BRC MG2 tersebut. Torehan prestasi menyabet beberapa gelar serta beragam piala yang diraih. (motorplus-online.com)

DATA MODIFIKASI
Ban depan: Battlax 90/80-17
Ban belakang: Battlax 100/90-17
Pelek depan: DID 1,40 x 17
Pelek belakang: DID 1,85 x 17
Sok depan: Ubah lubang suling